MENDIDIK UNTUK MENGETAHUI atau MENDIDIK UNTUK BISA?


Banyak orang berpikir, gelar-gelar  akan bekerja untuk saya’. Padahal pendidikan yang benar mengajarkan ‘jangan jual gelar-gelar’, melainkan ‘juallah apa yang engkau miliki, yaitu dirimu sendiri’. Ya, yourself, not your gelar. Not your UI, your ITB, atau your UGM. Not your FEUI, or TI-ITS. Bahkan not your Harvard-MBA.

Rhenald Kasali di bukunya yang berjudul Self Driving: Menjadi Driver atau Passenger? Itu sungguh-sungguh nyata sampai dengan hari ini, yaitu di Indonesia masih sangat banyak, bahkan mungkin mayoritas masyarakat, mereka yang berpendidikan tinggi sekali pun masih berpikir ala “Sarjana Kertas”, yaitu istilah yang digunakan oleh Rhenald Kasali untuk mereka yang begitu mendewa-dewakan gelar kesarjanaan, ijazah dari perguruan tinggi terkenal di dalam, maupun di luar negeri, sehingga rela menempuh segala cara, termasuk membeli ijazah untuk memperoleh gelar akademik itu. Seolah-olah dengan ijazah dan gelar kesarjanaan itu sudah otomatis menjadi jaminan masa depan yang cerah. Seolah-olah makin terkenal dan tinggi gelar kesarjanaannya semakin terjamin masa depannya di perusahaan tempatnya bekerja, atau bahkan karier politiknya.

Di artikelnya itu Rhenal antara lain menulis: “Celakanya, sistem pendidikan dan lingkungan sosial kita masih mengidolakan gelar. Bahkan, gelar pendidikan kerap berkorelasi positif dengan tingkat kesejahteraan. Masih banyak promosi jabatan di lingkungan instansi pemerintahan maupun BUMN yang ditentukan oleh gelar.

Maka, tak heran kalau banyak pegawai negeri sipil (PNS), juga pegawai BUMN dan swasta, berlomba-lomba melanjutkan pendidikan ke jenjang S-2 atau S-3. Sebab, hanya dengan cara itulah, mereka bisa naik jabatan menjadi kepala bagian, misalnya. Atau, kalau di BUMN, mungkin bisa menjadi general manager.

Bahkan, saat kampanye politik, gelar akademis, apalagi kalau sampai berderet, seakan membuat peluang seseorang untuk terpilih lebih besar. ”Daya jualnya” menjadi lebih tinggi. Kalau dia terpilih, pasti kesejahteraannya meningkat.

Padahal, meskipun kemampuan akademik yang tinggi juga diperlukan, tetapi yang paling dibutuhkan itu sebenarnya adalah skilled worker, yaitu tenaga terdidik yang betul-betul terampil, siap kerja, siap berkompetensi, singkatnya siap kerja. Untuk mendapatkan semua itu, dibutuhkan sosok yang tangguh, pekerja keras, inovatif, kreatif, dan seorang yang self driving, yaitu mampu membawa banyak orang ke perubahan-perubahan yang memajukan, bukan menjadi passanger yang hanya mengikuti ke arah mana orang lain membawanya, tanpa perlu kerja keras, bahkan banyak berpikir.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s