BERBAGAI CARA MENINGKATKAN MUTU PENDIDIKAN


Oleh : Hakiki Mahfuzh

Untuk bisa menghasilkan  mutu, menurut Slamet (1999) terdapat empat usaha mendasar yang harus dilakukan dalam suatu lembaga penghasil produk/jasa, yaitu:

  1. Menciptakan situasi “menang-menang” (win-win solution) dan bukan situasi  “kalah-menang”  diantara  fihak yang berkepentingan dengan lembaga  penghasil produk/jasa (stakeholders) . Dalam hal ini terutama antara pimpinan/pemilik lembaga dengan staf lembaga harus terjadi kondisi yang saling menguntungkan satu sama lain dalam meraih mutu produk/jasa yang dihasilkan oleh lembaga tersebut.
  2. Perlunya ditumbuh-kembangkan adanya motivasi instrinsik pada setiap orang yang terlibat dalam proses meraih mutu produk/jasa. Setiap orang harus tumbuh motivasi bahwa hasil kegiatannya  mencapai mutu tertentu yang meningkat  terus menerus, terutama sesuai dengan kebutuhan dan harapan pengguna/langganan.
  3. Setiap pimpinan harus berorientasi pada proses dan hasil jangka panjang. Penerapan TQM bukanlah suatu proses perubahan jangka pendek, tetapi usaha jangka panjang yang konsisten dan terus menerus.
  4.  Dalam menggerakkan segala kemampuan lembaga untuk mencapai mutu yang ditetapkan, harus dikembangkan adanya kerjasama antar unsur-unsur pelaku proses mencapai hasil produksi/jasa.  Janganlah diantara mereka terjadi persaingan yang mengganggu proses mencapai hasil mutu tersebut. Mereka adalah satu kesatuan yang harus bekerjasama dan tidak dapat dipisahkan satu sama lain untuk menghasilkan produk/jasa yang bermutu sesuai yang diharapkan.

 Cara lain untuk  mencapai suatu mutu dari produk/jasa, menurut  Edward Deming (Salis, 1993) terdapat 14 prinsip yang harus dilakukan, yaitu:

  1.  Tumbuhkan terus menerus tekad yang kuat dan perlunya rencana jangka panjang  berdasarkan visi ke depan dan inovasi baru untuk meraih mutu.
  2. Adopsi filosofi yang baru. Termasuk didalamnya adalah cara-cara atau metode  baru dalam bekerja.
  3. Hentikan ketergantungan pada pengawasan jika ingin meraih mutu.  Setiap orang yang terlibat karena sudah bertekat mencipkan mutu hasil produk/jasanya, ada atau tidak ada pengawasan  haruslah  selalu menjaga mutu kinerja masing-masing .
  4. Hentikan hubungan kerja yang hanya atas dasar harga.  Harga harus selalu terkait dengan nilai kualitas produk atau jasa.
  5. Selamanya harus dilakukan perbaikan-perbaikan terhadap kualitas dan produktivitas dalam setiap kegiatan.
  6. Lembagakan pelatihan sambil bekerja (on the job training), karena pelatihan adalah alat yang dahsyat untuk pengembangan kualitas kerja untuk semua tingkatan dalam unsur lembaga.
  7. Lembagakan kepemimpinan yang  yang membantu setiap orang untuk dapat melakukan pekerjaannya dengan baik  misalnya: membina, memfasilitasi, membantu mengatasi kendala dll.)
  8. Hilangkan sumber-sumber penghalang komunikasi antar bagian dan antar  individu dalam lembaga.
  9. Hilangkan sumber-sumber yang menyebabkan orang merasa takut dalam organisasi agar mereka dapat bekerja secara efektif dan efisien.
  10. Hilangkan slogan-slogan dan keharusan-keharusan kepada staf. Hal seperti itu biasanya hanya akan menimbulkan hubungan yang tidak baik antara atasan dan bawahan; atau  lebih jauh akan menjadi penyebab rendahnya mutu dan produktivitas pada sisten organisasi; bawahan hanya bekerja sekedar memenuhi keharusan saja.
  11.  Hilangkan  kuota atau target-target kuantitatif belaka. Bekerja dengan  menekankan pada target kuantitatif sering melupakan kualitas.
  12. Singkirkan penghalang yang merebut/merampas hak para pimpinan dan pelaksana untuk bangga dengan hasil kerjanya masing-masing.
  13. Lembagakan program pendidikan dan pelatihan untuk pengem-bangan diri bagi semua orang dalam lembaga. Setiap orang harus sadar bahwa sebagai profesional harus selalu meningkatkan kemampuan dirinya, dan
  14. Libatkan semua orang dalam lembaga ikut dalam proses transformasi menuju peningkatan mutu.  Ciptakan struktur yang memungkinkan  semua orang  bisa ikut serta  dalam usaha  memperbaiki mutu produk/jasa yang diusahakan.

Pendapat lain tentang bagiamana mencapai  mutu yaitu dari  Philip Crosby ( Salis, 1993), bahwa terdapat 14  langkah, meliputi:

  1. Komitmen pada pimpinan. Inisiatif pencapaian mutu pada umumnya  oleh pimpinan dan dikomunikasikan sebagai kebijakan secara jelas dan dimengerti oleh seluruh unsur pelaksana lembaga.
  2. Bentuk tim perbaikan mutu yang  bertugas merumuskan dan  mengendalikan program peningkatan mutu.
  3.  Buatlah pengukuran mutu, dengan cara  tentukan baseline data saat program peningkatan mutu  dimulai, dan  tentukan standar  mutu yang diinginkan sebagai patokan.  Dalam penentuan standar mutu libatkanlah pelanggan agar dapat diketahui harapan dan kebutuhan mereka.
  4. Menghitung biaya mutu. Setiap mutu dari suatu produk/jasa dihitung termasuk didalamnya  antara lain: kalau terjadi pengulangan pekerjaan jika terjadi kesalahan, inspeksi/supervisi, dan test/ percobaan.
  5. Membangkitkan kesadaran akan mutu bagi setiap orang yang terlibat dalam proses produksi/jasa dalam lembaga.
  6. Melakukan tindakan perbaikan. Untuk ini perlu  metodologi yang sistematis agar tindakan yang dilakukan cocok dengan penyelesaian masalah yang dihadapi, dan karenanya perlu dibuat suatu seri tugas-tugas tim dalam agenda yang cermat.  Selama pelaksanaan sebaiknya dilakukan pertemuan regular agar didapat feed back  dari mereka.
  7. Lakukan perencanaan kerja tanpa cacat (zero deffect planning) dari pimpinan sampai pada seluruh staf pelaksana.
  8. Adakan pelatihan pada tingkat pimpinan (supervisor training) untuk mengetahui peranan mereka masing-masing dalam proses pencapaian mutu, teristimewa bagi pimpinan tingkat menengah. Lebih lanjut juga bagi pimpinan tingkat bawah dan pelaksananya.
  9. Adakan hari tanpa cacat, untuk menciptakan komitmen dan kesadaran tentang pentingnya pengembangan staf.
  10. Goal Setting. Setiap tim/bagian merumuskan tujuan yang akan dicapai dengan tepat  dan harus dapat diukur keberhasilannya.
  11. Berusaha menghilangkan penyebab kesalahan . Ini berarti sekaligus melakukan usaha perbaikan. Salah satu dari usaha ini adalah adanya kesempatan staf mengkomunikasikan kepada atasannya  mana diantara pekerjaannya yang sulit dilakukan.
  12. Harus ada pengakuan atas prestasi (recognition) bukan berupa uang, tapi misalnya  penghargaan  atau sertifikat dan lainnya sejenis.
  13. Bentuk suatu Komisi Mutu, yang secara profesional akan merencanakan usaha-usaha perbaikan mutu dan menonetor secara berkelanjutan, dan
  14. Lakukan berulangkali, karena program mencapai mutu tak pernah akan berakir.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s