Sibelang, Sibotak dan Sibuta


SIBELANG, SIBOTAK DAN SIBUTA

Al-kisah, di sebuah desa yang jauh dari keramaian kota Mekah, hidup tiga orang bersaudara yang ketiganya cacat fisik. Saudaranya yang paling tua seluruh tubuhnya belang, dan karena itu orang-orang  memanggilnya si belang. Saudaranya yang kepalanya tidak ditumbuhi sehelai rambut pun dan dijuluki si botak, dan yang terakhir kedua matanya buta sehingga tidak bisa melihat.

Meskipun demikian, ketiganya hidup rukun dan saling menyayangi, dan sangat tekun beribadah. Atas kasih sayang Allah datanglah malaikat yang berubah wujud seperti manusia menemui ketiga saudara tersebut dan menanyakan apa yang mereka inginkan. Dengan perasaan gembira si belang meminta agar kulitanya tidak belang dan diberi kambing sebagai hewan piaraan. Sementara si botak tidak jauh berbeda, dia meminta kepalanya tidak lagi botak dan diberi kuda sebagai hewan piaraan, dan si buta pun demikian, dia minta matanya tidak lagi buta dan minta onta sebagai hewan ternaknya. Permintaan ketiga bersaudara tersebut dikabulkan oleh Allah dan pada akhirnya mereka menjadi kaya raya dengan ladang dan hewan ternak yang sangat banyak.

Satu waktu, malaikat kembali menemui mereka satu persatu dengan menyerupai orang miskin, kumuh dan merana dengan kulit belang, kepala botak dan buta.

“Wahai saudagar kaya, aku seorang fakir miskin yang sangat kelaparan, sementara orang menjauhi aku karena kulitku yang belang-belang”. Kata malaikat dengan memelas.

Si belang yang sudah kaya raya dan lupa dengan keadaannya, mengusir si miskin tadi dengan suara keras, “Pergilah! aku pun jijik melihat kulitmu yang belang!”

“Aku akan pergi, asal kau memberikan seekor kambing piaraanmu”, rengek malaikat.

“Apa! Seekor kambing! Jangankan seekor kambing, kotoran kambingnya saja aku tidak sudi memberimu!” Sahut Saudara yang tertua sambil menghardik.

Setelah itu, malaikat pun pergi meninggalkan saudara tertua dan menuju rumah suadara kedua.

“Wahai saudagar kaya, aku fakir miskin yang sangat lapar, sementara orang menjauhi aku karena botak kepalaku” Kata malaikat memelas kembali di rumah saudara kedua.

Sibotak yang sudah kaya dan lupa dengan keadaannya berlaku sama dengan apa yang telah dilakukan oleh kakaknya. Ia menghardik dan menyuruh malaikat pergi. Selanjutnya malaikat pun pergi menuju rumah saudara yang termuda. Malaikat mendapatkan perlakukan yang sangat berbeda dari sebelumnya.

Ia teringat betapa sengsaranya memiliki mata tapi buta. Ia menjamu malikat dengan sangat baik. Bahkan ketika malaikat berpamitan pulang, ia tidak lupa memberikan seekor unta agar dikendarai.

Betapa terkejutnya si buta tadi sepeninggal malaikat yang menyerupai orang miskin, karena didapatinya dua saudaranya kembali menjadi belang dan berkepala botak. Lebih terkejut lagi, saat melihat bahwa ternak-ternaknya yang dahulu sangat banyak, hilang begitu saja bersama kesombongan kedua saudaranya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s