Kisah-kisah Teladan


KISAH SANTAI PENGANTAR KE MATERI PEMBELAJARAN
dalam buku Sejarah Kebudayaan Islam untuk Madrasah Tsanawiyah
ditulis oleh Hakiki Mahfuzh

Bab 1
AMBISI SEORANG KAKEK

Hai Mu'awiyah, cari dan gunkan mahkota itu!

Nekad juga kakek ini, udah tua banyak tingkah lagi. Masa cucunya yang bagus itu diperalat hanya untuk mewujudkan cita-citanya menjadi seorang penguasa. Penguasa? Ya penguasa di kalangan suku Quraisy.

Kalian tentu saja sudah mengenal suku Quraisy bukan? Pintar kalian, suku Quraisy merupakan salah satu nama suku yang terdapat di jazirah Arabia. Jauh sebelum agama Islam datang di sana, suku ini sudah sangat terkenal. Nabi Muhammad saw. juga berasal dari keturunan suku ini lho.

Tahukah kalian bahwa sebelum Islam datang di jazirah Arabia, di sana terdapat bermacam-macam nama suku lho? Mereka itu saling berebut kekuasaan, bahkan tidak jarang antara satu suku dengan yang lain saling berperang. Ngeri ah, masa begitu? Betul kok, jangankan antar suku, dalam sesama suku saja, perebutan kekuasaan juga sering terjadi, termasuk dalam suku Quraisy tuh.

Salah seorang tokoh yang sangat terkenal dalam suku Quraisy adalah ‘Abdul Manaf. Sebagai tokoh masyarakat, ‘Abdul Manaf sangat disegani dan dihormati. Dari salah satu garis keturunan ‘Abdul Manaf terdapat nama Umayah yang sangat berambisi menjadi penguasa. Hanya saja ia tidak dapat memperoleh mahkota kekuasaan, walaupun telah menjadi kakek dari beberapa orang cucu. Bahkan sampai ia meninggal, kekuasaan yang menjadi impiannya juga tidak kunjung datang. Kasihan kek, mbok dak usah ambisius, ndak baik kek.

Namanya kakek nekad, ambisinya ia alirkan dalam darah salah seorang cucunya yang bernama Muawiyah bin Abu Sofyan. Seakan-akan dalam darah Muawiyah mengalir pesan dari sang kakek “Cari dan ambil mahkotaku, cucuku!”. Muawiyah menyambut dengan suka ria pesan kakeknya itu. Oleh karena itu, ia berambisi juga menjadi tokoh suku Quraisy, bahkan ia ingin melebihi ketokohan kakeknya.

Ambisi Muawiyah untuk mendapatkan mahkota kekuasaan juga tidak dapat diwujudkan semasa Rasulullah Muhammad saw. dan empat orang khulafaurrasyidun memimpin kaum muslimin, baik di kota Mekah maupun di kota Madinah. Kesempatan Muawiyah untuk menemukan mahkota kekuasan kakeknya adalah ketika khalifah ketiga, yakni Us\man bin Affan wafat karena dibunuh orang. “Inilah waktuku menemukan mahkota kakekku”, Kata Muawiyah dalam hati. “Kalau kakekku tokoh suku Quraisy, maka saya harus menjadi raja dari suku Quraisy”.

Muawiyah terbang dengan cita-citanya untuk menjadi seorang raja. Kecerdasan dan kecerdikan yang terdapat dalam dirinya, sangat mendukung hasratnya. Setelah khalifah ke empat, yakni ‘Ali bin Abu T{alib meninggal dunia, Muawiyah mulai menemukan jalan untuk mencari mahkota kekuasaan kakeknya yang hilang. Pada akhirnya ia berhasil menemukan dan memiliki mahkota. Bukan sekedar mahkota seorang tokoh suku Quraisy, tetapi mahkota seorang raja yang cukup terkenal dari suku Quraisy. Ia berhasil mendirikan Dinasti Umayah sebagai kerajaan Islam yang pertama dan sekaligus kebanggaan keturunan Umayah bin Abdul Manaf.

Bab 2
TIPU DAYA SANG JURU RUNDING

Hampir saja Muawiyah dan pasukannya mengalami kekalahan dalam peperangan di Siffin melawan pasukan ‘Ali bin Abu Talib. Namun berkat kepiawaian penasehat utama Muawiyah yang bernama ‘Amru bin ‘As} kekalahan tersebut dapat dihindari. Sebaliknya Muawiyah secara politis memperoleh kemenangan atas pasukan ‘Ali bin Abu Talib.

Di tengah-tengah kepanikan pasukan Muawiyah, dengan suara yang sangat nyaring ‘Amru bin ‘As berteriak “Hai pasukan Muawiyah! Tancapkan Al-Qur’an di atas tombak-tombak dan pedang kalian!” Secara serentak pasukan Muawiyah mengikuti perintah ‘Amru bin ‘As. Bumi Siffin tertutup cahaya matahari akibat terhalang oleh kitab suci Al-Qur’an yang ditancapkan di ujung tombak dan pedang.

“Hentikan penyerangan!”teriak panglima pasukan ‘Ali bin Abu Talib dari kejauhan. Mendengar seruan berhenti, secara bersamaan pasukan ‘Ali menghentikan serbuan. “Kena kau” bisik ‘Amru bin ‘As kepada Muawiyah. “Apa maksudmu ‘Amru!” sanggah Muawiyah. Dengan tenang ‘Amru memberitahukan kepada Muawiyah. “Ketahuilah bahwa perintahku agar menancapkan Al-Qur’an di ujung tombak dan pedang, semata-mata tipu muslihat agar pasukan ‘Ali berhenti menyerang kita”. “Pasukan ‘Ali akan menganggap bahwa kita setuju berdamai dengan menggunakan kitab Allah”. ‘Amru meneruskan keterangannya. “Di mataku engkau juru runding yang ulung wahai ‘Amru!” Sahut Muawiyah. “Tidak!” Jawab ‘Amru. “Saya hanya menggunakan tipu dayaku, agar kita tidak kalah dalam pertempuran ini”. ‘Amru memberi alasan.

Bab 3
MERPATI MASJID

Sejak muda Abdul Malik bin Marwan dikenal sebagai anak yang rajin, berakhlak sangat baik dan sederhana. Harinya-harinya diisi dengan  belajar, menghafal Al-Qur’an dan hadis-hadis Nabi. Pada suatu hari ia didatangi oleh seorang ulama yang sangat pandai dalam berdebat. Namanya asy Sya’bi. Ia sering berdebat tentang ilmu agama dengan ulama-ulama terkenal di Madinah. Ia selalu memenangkan perdebatan. Satu kali ia berdebat dengan Abdul Malik bin Marwan. Ia sangat puas dengan jawaban-jawaban Abdul Malik bin Marwan. Lantas ia ketagihan dan selalu ingin berdebat dengan Abdul Malik. Sebagai ilmuan yang cukup beken di Madinah Abdul Malik tidak menolak kegemaran Asy Sya’bi.

Usut punya usut ternyata asy Sya’bi katagihan berdebat dengan Abdul Malik oleh karena ia sambil berguru kepadanya. asy Sya’bi  berkata “Setiap aku berdebat dengan seseorang, aku tidak pernah dikalahkan, kecuali dengan Abdul Malik bin Marwan. Setiap kali aku berdebat dengannya, tentang hadis atau syair, ia menambah pengetahuanku”.

Lain lagi dengan pengakuan Ibnu ‘Umar (anak ‘Umar bin Khattab) katanya “Luar biasa ‘Abdul Malik, orang-orang lain dilahirkan sebagai kanak-kanak, tetapi Abdul Malik bin Marwan dilahirkan seperti bapak”.

Oleh karena hari-harinya mudanya digunakan belajar Al-Qur’an dan hadis di masjid, ia sangat pandai di kedua bidang tersebut dan menjadi ahli hukum di Madinah. Karena itu juga Abdul Malik bin Marwan mendapat julukan Merpati Masjid.

Bab 4
SEKOKOH BATU KARANG

Nama lengkapnya Tariq bin Ziyad bin ‘Abdullah, panglima perang Dinasti Umayah. Namanya diabadikan menjadi nama sebuah semenanjung perbukitan karang setinggi 425 meter di pantai tenggara Spayol. Jabar Tariq atau Gibraltar nama perbukitan tersebut.

Pada bulan Rajab tahun 97 Hijriyah atau 711 Miladiyah ia diperintahkan oleh gubernur Afrika Utara Musa bin Nusair menyerbu semenanjung Andalusia (Spanyol saat ini).  Bersama pasukannya ia menyeberangi selat Andalusia. Nun jauh di seberang pasukan musuh sejumlah 100.000 orang telah menunggu dengan siap siaga. Sebagai panglima yang perkasa dan gagah berani, ia memipin pasukan dengan menyalakan api semangat yang luas biasa dahsyatnya.

Begitu mendarat Tariq bin Ziyad membakar semua kapal yang digunakan dan secara lantang ia berkata “ Wahai pasukanku! kemanakah saudara-saudara akan melarikan diri ? lautan luas di belakang kalian dan musuh menunggu di depan kalian, Demi Allah kalian harus tabah dan sabar….”.  Mendengar pidato Tariq, semangat seluruh pasukannya melonjak siaga bertempur.

Pada akhirnya pertempuran dimenangkan oleh Tariq bin Ziyad dengan gemilang. Penaklukan ini terjadi ketika khalifah Walid bin Abdul Malik memimpin Dinasti Umayah. Sebagai panglima yang baik, Tariq selanjutnya berkata “Kemenangan telah kita peroleh, kita harus bersyukur atas kemenangan ini, minumlah kalian semua, sebab saya tidak akan minum sebelum kallian minum”. Serantak pasukannya meminum air yang ada.

 Bab 5
AIR MATA ‘UMAR

Ketika khalifah ke 7 Dinasti Umayah, yakni Sulaiman bin ‘Abdul Malik menderita sakit para pembesar istana gundah gulana. Kegundahan mereka bukan hanya memikirkan sakit yang diderita oleh khalifah, tetapi juga memikirkan siapa yang layak menjadi penggantinya. Sementara itu, putra mahkota yang dipersiapkan untuk menduduki jabatan khalifah meninggal sewaktu masih muda.

Selaku sekretaris (al-Katib) ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz bertanya kepada Perdana Menteri (Wazir), Raja’ bin Haiwah. “Wahai Perdana Menteri, siapa gerangan yang akan menggantikan khalifah, seandainya beliau mendahului kita?”.  Waktu itu, Raja’ bin Haiwah telah mendengar pembicaraan yang berkembang di sekitar pejabat negara. “Tuan, tidak ada yang pantas menggantikan khalifah Sulaiman kecuali tuan sendiri”, Jawab Raja’ bin Haiwah kepada ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz. “Apa!” Tanya ‘Umar keheranan.

“Wahai Perdana Menteri, dengan berskasi kepada Allah saya minta kepadamu, seandainya khalifah Sulaiman menyebut-nyebut namaku untuk jabatan itu, hendaklah engkau menghalanginya. Jika ia tidak menyebut namaku, maka jangan sekali-kali engkau mengingatkan kepada baginda khalifah”. Namun demikian khalifah telah membuat keputusan bahwa penggantinya kelak adalah ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz.

Suatu ketika setelah ‘Umar dinobatkan menjadi khalifah menggantikan khalifah Sulaiman, beliau menangis tersedu-sedu meratapi jabatan khalifah yang dipercayakan kepada beliau. Istri beliau mendekati dan bertanya “Apakah yang tuan tangisi ?” ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz menjawab “Aku telah dinobatkan untuk mengurus umat Nabi Muhammad saw, terpikir olehku nasib orang-orang miskin yang kelaparan, nasib orang sakit yang tersia-sia, nasib rakyat bawah yang serba kekurangan, nasib orang yang tertindas dan teraniaya….. itulah sebabnya aku menangis”. Tangis seorang khalifah yang khawatir tidak dapat mengemban amanah yang dibebankan kepadanya

Bab 6
RAHASIA JUBAH HIJAU

Khalifah Hisyam bin Abdul Malik dikenal sangat hati-hati dan cermat dalam mengeluarkan uang negara. Seluruh proyek yang dibiayai oleh negara  dihitung dengan cermat. Berapa jumlah dana yang dibutuhkan dan berapa jum lah tenaga kerja yang diperlukan. Hampir tidak ada penggelembungan dana untuk proyek-proyek yang dibiayai oleh negara. Semua pengeluaran dana harus melalui sepengetahuan khalifah.

Khalifah Hisyam dikenal sangat ketat mengeluarkan uang negara. Saking ketatnya banyak orang yang mengatakan bahwa khalifah sangat “kikir” dalam membelanjakan uang negara. Karena “kikir” itu  juga ada orang yang ingin tahu dan curiga untuk apa uang negara.

Pada saat akan mengutus ‘Aqqal bin Syabbah ke Khurasan,  khalifah keluar rumah dengan mengenakan jubah berwarna hijau. Semua mata tertuju memandangi khalifah, termasuk ‘Aqqal.  Diam-diam khalifah sudah tahu apa yang ada di fikiran orang-orang yang memandangnya. Lantas khalifah bertanya “ Ada apa gerangan engkau memandangi jubah hijauku ini?”. ‘Aqqal menjawab “Nampaknya saya pernah melihat tuan memakai jubah hijau ini dua puluh tahun yang lalu sebelum tuan diangkat menjadi khalifah, saya mengira bahwa jubah hijau ini jubah yang dulu itu”. Khalifah berkata “Betul, demi Allah, ini adalah jubah hijau yang dulu itu, dan saya tidak punya jubah selain ini.” “Adapun uang yang saya kumpulkan dan saya simpan itu adalah untuk kamu seklain.” Lanjut khalifah. Stelah itu orang-orang baru tahu bahwa khalifah sangat hati-hati dan berhemat dalam mengeluarkan uang negara, karena uang negera hanya untuk rakyatnya.

Bab 7
PERTAUBATAN ABDULLAH BlN MUBARAK

Abdullah bin Mubarak sedemikian tergila-gila kepada seorang gadis dan membuat ia terus-menerus dalam kegundahan. Suatu malam di musim dingin ia berdiri di bawah jendela kamar kekasihnya sampai pagi hari hanya karena ingin melihat kekasihnya itu walau untuk sekilas saja. Salju turun sepanjang malam itu. Ketika azan Subuh terdengar, ia masih mengira bahwa itu adalah azan Isya. Sewaktu fajar menyingsing, barulah ia sadar betapa ia sedemikian terlena dalam merindukan kekasihnya itu. “Wahai putera Mubarak yang tak tahu malu!“. Katanya kepada dirinya sendiri. “Di malam yang indah seperti ini engkau dapat tegak terpaku sampai pagi hari karena hasrat pribadimu. tetapi apabila engkau salat membaca surah yang panjang engkau tidak mampu.

Sejak saat itu hatinya sangat gundah. Kemudian ia bertaubat dan menyibukkan diri dengan beribadah kepada Allah. Sedemikian sempurna kebaktiannya kepada Allah sehingga pada suatu hari ketika ibunya memasuki taman, ia lihat anaknya tertidur di bawah rumpun mawar. Sementara itu seekor ular dengan bunga narkisus di mulutnya mengusir lalat yang hendak mengusiknya.

Setelah bertaubat, Abdullah bin Mubarak meninggalkan kota Merv untuk beberapa lama menetap di Baghdad. Di kota inilah ia bergaul dengan tokoh-tokoh sufi. Dari Baghdad ia pergi ke Mekah kemudian ke Merv. Penduduk Merv menyambut kedatangannya dengan hangat. Mereka kemudian mengorganisir kelas-kelas dan kelompok-kelompok studi. Di kota Merv, Abdullah mendirikan dua buah sekolah tinggi, yang satu untuk golongan Sunnah dan satu lagi untuk golongan Fiqh. Kemudian ia berangkat ke Hijaz dan untuk kedua kalinya menetap di Mekah.

Di kota Mekah ia mengisi tahun-tahun kehidupannya secara berselang-selang. Tahun pertama ia menunaikan ibadah haji dan pada tahun kedua ia pergi berperang, tahun ketiga ia berdagang. Keuntungan dari perdagangannya, dibagikannya kepada para pengikutnya. la biasa membagi-bagikan kurma kepada orang-orang miskin kemudian menghitung biji buah kurma yang mereka makan, dan memberikan hadiah satu dirham untuk setiap biji kepada siapa di antara mereka yang paling banyak memakannya.

Abdullah sangat teliti dalam kesalehannya. Suatu ketika ia mampir di sebuah warung kemudian pergi salat. Sementara itu kudanya yang berharga mahal menerobos ke dalam sebuah ladang gandum. Kuda itu lalu ditinggalkannya dan meneruskan perjalanannya dengan berjalan kaki. Mengenai hal ini Abdullah berkata: “Kudaku itu telah mengganyang gandum-gandum yang ada pemiliknya“. Pada peristiwa lain, Abdullah melakukan perjalanan dari Merv ke Damaskus untuk mengembalikan sebuah pena yang dipinjamnya dan lupa mengembalikannya.

Suatu hari Abdullah melalui suatu tempat. Orang-orang mengatakan kepada seorang buta yang ada di situ bahwa Abdullah sedang melewati tempat itu. “Mintalah kepadanya segala sesuatu yang engkau butuhkan!” “Abdullah berhentilah!“, orang buta itu berseru. Abdullah lalu berhenti. “ Doakanlah kepada Allah untuk mengembalikan penglihatanku ini!“, ia memohon kepada Abdullah. Abdullah menundukkan kepala lalu berdoa. Seketika itu juga orang buta itu dapat melihat kembali. (Dikutip dari internet dengan perubahan)

Bab 8
Panggil Namaku Raja

Rakyat beramai-ramai melakukan demonstrasi di dekat istana raja Roderick. Demontrasi yang sudah ke 99 kali dilakukan oleh rakyat sama sekali tidak membuat raja Roderick berubah. Bahkan dari hari ke hari semakin berlaku kejam. Sudah puluhan demonstran ditangkap dan dijebloskan ke penjara bawah tanah yang di dalamnya sudah diisi 5 ekor harimau.

Setiap orang yang dimasukkan ke penjara bawah tanah itu, sudah dapat dipastikan akan mati dimangsa oleh harimau-harimau lapar. Di luar dugaan banyak orang, terapat seorang pemuda yang dapat bertahan di penjara tersebut. Pemuda yang beruntung itu bernama Mubarak. Ia seorang demontran dan pemberani. Mengetahui Mubarak tidak dimangsa oleh harimau, seluruh penjaga penjara terheran-heran, ada apa gerangan dengan si Mubarak. Berita tentang keadaan Mubarak sampai juga ke telinga raja Roderick.

Raja Roderick penasaran juga dengan berita yang didengarnya. Oleh karena itu ia menyuruh pengawalnya agar membawa Mubarak ke depan kursi kebesarannya. Begitu melihat Mubarak dalam keadaan sehat wal afiyat, Roderick gusar sambil bertanya “Hai demostran! Rahasia apa yang kamu miliki, hingga saat ini kamu tidak dimakan oleh harimau-harimauku?” Mubarak terdiam, sambil berfikir jawaban apa yang akan diberikan kepada Roderick. Sambil berdiri Mubarak menjawab, “Wahai Roderick, apakah yang akan kau berikan kepadaku apabila saya memberikan rahasia jawaban kepadamu?”. “Saya berjanji, apabila kamu memberikan rahasia jawabanmu, saya akan membebaskanmu”. Sambil tersenyum Mubarak kembali mempertegas janji Roderick. “Roderick, betulkah apa yang kalian janjikan kepadaku?”. Wajah raja Roderick memerah, sambil menahan marah ia menjawab “Betul! sekali saja berkata, maka perkataanku itu menrupakan hukum yang harus berlaku, karena itu janjiku bahwa kamu akan dibebaskan”.

Sambil terus tersenyum Mubarak meminta kepada raja Roderick. “Hai Roderick, bolehkah saya memberitahukan rahasia jawabanku dengan membisikkan dekat telingamu?” Raja Roderick kaget, bukan kepalang. “Mengapa harus kamu sampaikan dengan berbisik?” tanya raja Roderick. “Begini, jika saya sampaikan dengan suara keras, maka semua orang yang hadir di sini akan mendengar rahasia jawabanku, padahal rahasia jawaban ini sangat berguna bagaimu”. Sambung Mubarak. “Baik, sampaikan rahasia jawabanmu”.

Sambil mendekat ke telinga raja Roderick, Mubarak membisikkan rahasia jawabannya. “Raja Roderick, saya tidak dimakan oleh harimau-harimau tuan, karena setiap harimau akan memakan saya, maka saya memanggil harimau itu dengan sebutan raja. Jika tuan Roderick tidak percaya, cobalah nanti malam tuan masuk ke dalam penjara dan panggil harimau tuan dengan sebutan raja, maka harimau itu akan mendekat dan tidak akan menyentuh tuan”.

Setelah itu Mubarak dibebaskan dari penjara dan pada malam harinya, raja Roderick masuk penjara dan ia melakukan apa yang dibisikkan oleh Mubarak. Raja Roderick kagum, ternyata harimau-harimau itu tidak mau memangsanya. Begitu sadar, raja Roderick sangat marah, ia telah tertipu dengan bisikan Mubarak. Roderick sebagai raja memanggil hariamu-harimaunya dengan sebutan raja. Ternyata kedudukan raja Roderick sama dengan harimau.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s