Kepemimpinan dalam Islam


KEPEMIMPINAN DALAM ISLAM
(sebuah perspektif).*)

 Oleh : Hakiki Mahfuzh

Begaya nich ye

Al-Malik, merupakan salah satu nama dari 99 Asma’ul Husna yang merupakan hak Allah SWT. Dari nama tersebut dapat dipahami bahwa Allah SWT merupakan Raja atau Pemimpin untuk sekalian alam. Seluruh kepemimpinan di alam ini mesti mengikuti Allah SWT Yang Maha Pemimpin. Berdasarkan kalimatul haq tersebut, Islam sangat memberikan perhatian yang lebih pada masalah kepemimpinan, karena hidup ini harus ada yang memimpin dan tidak boleh ada kekosongan kepemimpinan dalam pandangan Islam.

Secara historis, pada masa awal Islam dida’wahkan, pemimpin kaummuslimin langsung berada di bawah bimbingan Rasulullah saw dinama beliau dimbimbing oleh Allah SWT Yang Maha Pemimpin dengan  wahyu Allah.  Pada waktu Rasulullah saw mangkat, sejarah kepemimpinan diklaim oleh banyak ilmuan sebagai fondamen tegaknya demokrasi.

Betapa pentingnya kepemimpinan dalam Islam bisa dilihat dalam sejarah saat-saat meninggalnya Rasulullah saw ini. Saat itu sempat tertunda pemakaman Rasulullah, dimana para sahabat berkumpul dirumah bani Saits untuk memilih pemimpin para kaum muslimin. Para shahabat mendahulukan pemilihan kepemimpinan ini karena menyadari betapa pentingnya keberadaan seorang pemimpin dan kepemimpinan itu tidak boleh kosong.

Setelah dilakukan musyawarah, maka terpilih Abu Bakar as siddiq sebagai pemimpin kaum muslimin. Diantara alasan para sahabat memilih Abu Bakar  menjadi pemimpin, antara lain sebagai berikut;

  1. Abu Bakar paling tua diantara para shahabat.
  2. Abu Bakar paling dekat kepada Nabi, terlihat sebagai orang yang menemani Rasulullah saat hijrah.
  3. Ketika Nabi sedang sakit parah, maka Abu Bakar lah yang ditunjuk Rasulullah sebagai imam sholat.
  4. Abu Bakar lah orang yang pertama kali membenarkan Isra’ Mi’raj Rasulullah dan mendapat gelar ash-shidiq.

Merujuk kepada alasan para sahabat dalam memilih Abu Bakar as Siddiq sebagai pemimpin umat Islam menggantikan Rasulullah saw, maka seseorang dapat dijadikan sebagai pemimpin apabila memenuhi kriteria  tertentu.   Secara umum Al-Qur’an sudah memberikan kriteria pemimpin yg harus dipilih yaitu: “Dan sesungguhnya telah Kami tulis di dalam Zabur sesudah (sesudah Kami tulis dalam) Lauh Mahfuzh, bahwasanya bumi ini dipusakai hamba-hamba-Ku yang saleh” (QS Al Ambiya’:105). Jadi yang mendapat mandat mengurusi manusi dimuka bumi ini hanyalah orang-orang sholeh, bukan orang-orang kafir yang akan membuat kerusakan dimuka bumi. Jika orang kafir memimpin dimuka bumi ini, maka terlihatlah dunia ini bukan semakin baik, tapi malah rusak dan hancur dunia ini.

Terus, bagaimana kriteria orang sholeh itu? bisa dilihat ayat Allah: “Sesungguhnya penolong kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat, seraya mereka tunduk (kepada Allah)” (QS Al Maidah:55). Jadi kriteria orang sholeh yaitu:

  1. Mendirikan sholat,
  2. Membayar zakat,
  3. Tunduk pada aturan Allah

Pada suatu hadist, apabila ada 3 orang sedang berpergian (musyafir) maka hendaklah kamu mengangkat salah seorang imam diantara kalian. Jika 3 orang saja perlu diangkat pemimpin, maka apalagi negara Indonesia yang jumlah penduduklah sekitar 200 juta, maka urgensi pemimpin sangat-sangat perlu dibicarakan dan diangkat seorang sebagai pemimpin. Pada kondisi akan pemilihan presiden, maka ummat Islam dianjurkan tidak golput. Boleh golput bila pada kondisi ummat Islam pada suatu komunitas dimana calon-calon presiden bukan orang islam / kafir. Pada kasus akan pemilu presiden mendatang, maka wajib dipilih capres yang memenuhi kualifikasi kesholehan dan diambil yang paling sholeh. Hal ini seperti saat memilih seseorang untuk menjadi imam sholat, yaitu:

  1. orang yang lebih fasih bacaannya.
  2. orang yang lebih paham sunah-sunnah Nabi.
  3.   orang yang lebih dulu berhijrah/masuk Islam.
  4.   orang yang lebih tua dalam umur/lebih cerdas.

Bisa juga melihat sifat Nabi sebagai kriteria untuk menjadi pemimpin, yaitu:

1. shidiq, orang yang benar.
2. amanah, orang yang jujur.
3. tabligh, menyampaikan pesan-pesan Illahiyah.
4. fathonah, orang yang cerdas, meliputi kecerdasan intektual, kecerdasan emosional, dan kecerdasan spiritual.

Jika pada posisi ada 2 calon pemimpin yang sama-sama cerdas, tetapi dalam hal kedekatan pada orang kafir berbeda, maka dipilih calon pemimpin yg dibenci orang kafir tersebut dan ditinggalkan memilih calon pemimpin yang dekat pada orang kafir.

Dalam agama Islam ada 2 komponen yang tidak bisa terpisahkan, yaitu:

1. kekuasaan
2. agama

Seperti kata Ibnu Taimiyyah: agama Islam tidak akan bisa tegak/abadi tanpa ditunjang oleh kekuasaan dan kekuasaan tidak bisa langgeng tanpa ditunjang dengan agama..


*) Diadobsi dari : Tulisan Al-Barokah yang diresume dari cermah Ustadz: Syamsul Arifin Nababan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s