PEMBELAJARAN DALAM RUMPUN ILMU AGAMA


Oleh : Hakiki Mahfuzh

Pengertian Pembelajaran

Secara etimologis, istilah pembelajaran merupakan istilah bentukan dari akar kata belajar. Kata ini memiliki dua hal pokok yang harus ada, yaituhakekat belajar dan hakekat mengajar. Belajar merupakan proses perubahan tingkah laku, baik berkaitan denganpengetahuan, keterampilan maupun sikap (Roestiyah N.K, 2001: 1). Selain itu mengajar juga merupakan proses, yakni proses mengatur,  mengor-ganisasi lingkungan sekitar siswa sehingga dapat menumbuhkan dan mendorong siswa melakukan kegiatan belajar (Nana Sudjana, 1995: 29).


Selanjutnya pembelajaran menurut Corey seperti dikutip oleh Saiful Sagala merupakan “Proses dimana lingkungan seseorang secara sengaja dikelola untuk memungkinkan ia turut serta dalam tingkah laku tertentu dalam kondisi-kondisi khusus atau menghasilkan respon terhadap situasi tertentu” (Saiful Sagala, 2007: 61). Lebih lanjut Sagala menyatakan bahwa pembelajaran merupakan proses komunikasi dua arah, mengajar dilakukan pihak guru sebagai pendidik dan belajar dilakukan oleh peserta didik. Dimyati dan Mujiyono (1999: 297) menjelaskan bahwa pembelajaran merupakan kegiatan guru secara terprogram dalam desain instruksional, untuk membuat siswa belajar secara aktif yang menekankan pada penyediaan sumber belajar. Pembelajaran bukanlah pekerjaan yang sederhana, seperti diungkap oleh Gagne & Brig “Instruction is the means employed by teacher, designer of materials, curriculum specialist, and promote whose pur­pose to develop and organized plan to promote learning” (Gagne & Brig 1979: 19).

Dari beberapa pengertian pembelajaran di atas dapat dipahami bahwa dalam pembelajaran selalu ada interaksi antara orang yang mengajar dan orang yang belajar untuk mencapai tujuan tertentu dengan mengggunakan strategi, media, dan sumber belajar yang dapat mendukung ketercapaian tujuan dalam pembelajaran.

Pembelajaran membutuhkan strategi, yaitu  garis-garis besar haluan untuk bertindak dalam usaha mencapai sasaran yang telah ditentukan (Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain, 1997: 5). Salah satu langkah untuk memiliki strategi pembelajaran, seorang guru harus menguasai teknik-teknik penyajian atau sering disebut metode mengajar (Roestiyah N.K. 2001: 1). Strategi pembelajaran merupakan pola umum yang digunakan oleh guru dalam proses pembelajaran yang meliputi pendekatan pembelajaran, metode mengajar, dan teknik belajar. Pendekatan pembelajaran merupakan cara pemerosesan guru terhadap siswa untuk mencapai tujuan pendidikan yang telah direncanakan. Metode pembelajaran adalah cara kerja guru untuk memproses siswa dalam mencapai tujuan pendidikan. Teknik pembelajaran berupa urutan kegiatan pembelajaran sesuai dengan metode dan pendekatan yang digunakan (Chabib Thoha, 1996: 46).

Jika memperhatikan uraian di atas, maka tergambar bahwa strategi pembelajaran meliputi empat komponen pokok yaitu: (1) menetapkan spesifikasi dan kualifikasi perubahan tingkah laku, (2) menentukan pilihan berkenaan dengan pendekatan terhadap masalah pembelajaran, (3) memilih prosedur, metode, media, dan teknik pembelajaran, dan (4) menetapkan norma dan kriteria keberhasilan kegiatan pembelajaran.

Dari uraian di atas juga terungkap bahwa strategi pembelajaran merupakan keseluruhan prosedur yang ditempuh oleh guru dalam kegiatan pembelajaran dengan menggunakan pendekatan pembelajaran, metode mengajar, media pembelajaran dan teknik mengajar. Setiap guru dalam menentukan strategi pembelajaran sangat terkait dengan kemampuannya dalam memilih dan menentukan pendekatan pembe-lajaran, metode mengajar, media pembelajaran dan teknik mengajar.

Ada beberapa hal yang harus dipertimbangkan oleh guru dalam memilih pendekatan pembelajaran, metode, media, dan teknik pembelajaran sebagai berikut: (1) keadaan murid yang mencakup pertimbangan tentang tingkat kecerdasan, kematangan, perbedaan individu lainnya, (2) tujuan yang akan dicapai, (3) situasi yang mencakup hal yang umum seperti situasi kelas, dan situasi lingkungan, (4) alat-alat pembelajaran yang tersedia, (5) kemampuan pengajar, dan (6) sifat bahan pengajaran (Ahmad Tafsir, 2000: 33).

Penentuan strategi pembelajaran yang mencakup pendekatan, metode, media, dan teknik pembelajaran dalam rumpun ilmu agama bertujuan agar mendapatkan cara yang paling tepat dan cepat dalam mempelajari rumpun ilmu agama. Masih menurut Ahmad Tafsir bahwa tepat dan cepat semakna dengan efektif dan efisien dalam pembelajaran. Ini berarti bahwa penggunaan strategi pembelajaran dalam rumpun ilmu agama menggunakan cara yang paling efektif dan efisien dalam mengajarkan rumpun ilmu agama.

Tidak mudah memilih dan menggunakan strategi pembelajaran dalam rumpun ilmu agama yang paling tepat dan cepat sehingga dapat berhasil secara efektif dan efisien. Untuk itu paling tidak harus juga memperhatikan enam hal sebagaimana yang diakui oleh Ahmad Tafsir (2000: 10) yaitu: (1) siapa yang dididik; (2) berapa jumlahnya; (3) seberapa dalam ilmu yang akan diajarkan; (4) seberapa luas materi yang akan diajarkan; (5) di mana pembelajaran itu berlangsung, dan (6) peralatan apa yang tersedia.

Jika keenam unsur yang diakui oleh Ahmad Tafsir diringkas, maka proses pembelajaran harus memperhatikan unsur pendidik, siswa,  materi pembelajaran, media, dan atau sarana serta prasarana pembelajaran.

1) Pendidik atau Guru

Pendidik atau guru dalam keseluruhan pembelajaran merupakan salah satu faktor yang sangat penting. Melalui pendidiklah aktivitas paedagogis dapat diarahkan kepada tujuan yang ingin dicapai. Ia juga bertanggung jawab dalam mentransformasikan ilmu, nilai dan sikap yang telah dirumuskan, untuk dimiliki oleh siswa. Kehadirannya akan banyak mempengaruhi keberhasilan pembelajaran itu sendiri. Untuk itu juga seorang guru harus memenuhi kriteria dan persyaratan tertentu, baik secara personal maupun secara didaktis profesional. Secara khusus Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Bab I pasal 1 ayat 6 memperjelas bahwa pendidik itu harus memiliki kualifikasi keguruan.

Kualifikasi keguruan yang dimaksud harus dilalui melalui pendidikan tinggi program sarjana atau program diploma empat dan kompetensi yang meliputi kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional yang diperoleh melalui pendidikan profesi, seperti diatur dalam Undang-undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen. (Undang-undang, 2005)

Sebagaimana diatur dalam Undang-undang Nomor 14 Tahun 2005 pada Bab IV pasal 20 dalam melakukan tugasnya guru berkewajiban untuk: (a) merencanakan pembelajaran, melaksanakan proses pembelajaran yang bermutu, serta menilai dan mengevaluasi hasil pembelajaran; (b) meningkatkan dan mengembangkan kualifikasi akademik dan kompetensi secara berkelanjutan sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni; (c) bertindak objektif dan tidak diskriminatif atas dasar pertimbangan jenis kelamin, agama, suku, ras, dan kondisi fisik tertentu, atau latar belakang keluarga, dan status sosial ekonomi siswa dalam pembelajaran; (d) menjunjung tinggi peraturan perundang-undangan, hukum, dan kode etik guru, serta nilai-nilai agama dan etika, dan (e) memelihara dan memupuk persatuan dan kesatuan bangsa.

Peraturan Pemerintah RI Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan pada Bab VI pasal 28 selain mensyaratkan kualifikasi akademik dan kompetensi, untuk guru pada Madrasah Tsanawiyah juga harus berlatar pendidikan tinggi yang sesuai dengan yang diajarkan serta bersertifikat profesi guru untuk Madrasah Tsanawiyah atau yang sederajat.

Penjelasan di atas lebih berorientasi pada persyaratan administratif profesi guru, padahal tugas seorang guru tidak hanya terbatas pada persyaratan admnistratif, melainkan juga mengetahui tingkat perkembangan dan kemampuan siswa, membangkitkan minat belajar, membangkitkan dan mengarahkan potensi siswa, mengatur situasi pembelajaran yang kondusif, mengakomodir tuntutan zaman, dan melakukan interaksi dengan siswa (Depag RI, 2005: 35).

Berdasarkan tugas di atas, peran guru dalam pembelajaran sangat vital, oleh sebab itu seorang guru dituntut tidak hanya memenuhi persyaratan administratif, tetapi juga persyarakat kualitatif, seperti kedalaman ilmu, beriman, berakhlak mulia, dan sungguh-sungguh (mujahadah) dalam melaksanakan profesinya sebagai guru.

Untuk dapat menguasai materi pembelajaran, guru harus terus menerus belajar, karena penguasaan terhadap materi pembelajaran merupakan hal yang sangat menentukan keberhasilam pembelajaran. Guru tidak cukup hanya menguasai materi pembelajaran yang tercantum dalam Silabus dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran, tetapi ia harus menguasai materi yang lebih dari itu (Moh. Uzer Usman, 2006: 50).

Agar dapat mengkomunikasikan materi atau ilmu yang dikua-sainya kepada siswa, guru harus melakukan komunikasi seperti yang disebutkan oleh Steven Farr dalam buku Teaching As Leadership, yaitu

a) use a positive and engaging tone;

b) have expressive body language;

c) employ varied and engaging vocal expressiveness;

d) maintain constant eye contact with students/audience;

e) purposefully repeat key ideas;

f) make logical transitions;

g) enthusiastic about the subject matter (and audience understan-ding);

h) include elements of suspense, drama, and excitement in the exploration of new ideas;

i) use accompanying visual aids and cues, such as graphic orga-nizers, underlining, or using different colors on the board, to clarify key ideas and their relationship with one another (Steven Farr, 2010: 153).

Dalam mengkomunikasikan materi pembelajaran, guru harus menggunakan nada yang tegas dan menarik hati, gerakan tubuh yang eskpresif, memakai suara yang bervariasi dan menarik, penuh perasaan, mengulang-ulang ide tertentu, mengalihkan pembicaraan secara logis, penuh gaerah dalam menyampaikan materi yang diajarkan termasuk juga dengan perasaan gembira, sesekali tegang dan terus memperluas dengan ide-ide baru.  Mengkomunikasikan materi pembelajaran dapat juga menggunakan media dalam berbagai bentuknya agar pembelajaran dapat menarik.

Dalam buku Standar Pelayanan Minimal Madrasah Tsanawiyah yang diterbitkan oleh Departemen Agama RI, (Depag RI, 2005 : 38 – 40) diuraikan bahwa tugas guru tidak hanya sebagai suatu profesi, tetapi sebagai suatu tugas kemanusiaan dan kemasyarakatan. Guru mempunyai kekuasaan untuk membentuk dan membangun kepribadian siswanya menjadi seorang yang beradab dan berguna. Adapun tugas guru dapat dibagi menjadi;

a) tugas guru sebagai suatu profesi menuntut kepada guru untuk mengembangkan profesionalitas diri sesuai perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi;

b) tugas guru sebagai pendidik; berarti meneruskan dan mengem-bangkan nilai-nilai hidup kepada anak didik;

c) tugas guru sebagai pengajar; berarti meneruskan dan mengem-bangkan ilmu pengetahuan kepada anak didik;

d) tugas guru sebagai pelatih; berarti mengembangkan kete-rampilan dalam kehidupan demi masa depan anak didik;

Tugas guru jika dijabarkan dalam pengelolaan pembelajaran sebagai berikut:

a) korektor, sebagai korektor guru harus bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Semua nilai yang baik hams guru pertahankan, dan semua yang buruk hams disingkirkan dan jiwa dan watak anak didik;

b) inspirator, guru hams dapat memberikan petunjuk bagaimana cara belajar yang baik demi kemajuan belajar anak didik;

c) informator, informasi dan yang baik dan efektif diperlukan dari seorang guru;

d) organisator, dalam hal ini guru memiliki kegiatan pengelolaan akademik, sehingga dapat mencapai efektifitas dan efesiensi dalam belajar pada din anak didik;

e) motivator, sebagai motivator guru hendaknya dapat mendorong anak didik agar bergairah dan aktif belajar;

f) inisiator, sebagai inisiator guru harus dapat menjadi pencetus ide-ide kemajuan dalam pendidikan dan pengajaran;

g) fasilitator, sebagai fasilitator guru dapat menyediakan fasilitas yang memungkinkan kemudahan kegiatan belajar anak didik;

h) pembimbing, kehadiran guru adalah untuk membimbing anak didik menjadi manusia dewasa dan beradab;

i) demonstator, untuk bahan pelajaran yang sukar dipahami anak didik, guru harus membantunya dengan cara memperagakan secara didaktis, sehingga sejalan dengan pemahaman anak didik;

j) pengelola kelas, guru harus mampu mengelola kelas dengan baik, karena kelas merupakan tempat berhimpun semua anak didik untuk menerima pelajaran dari guru;

k) mediator, guru hendaknya memiliki pengetahuan dan pemahaman yang cukup tentang media pendidikan, baik media materil maupun non-materil;

l) supervisor, sebagai supervisor guru hendaknya dapat membantu, memperbaiki dan menilai secara kritis terhadap proses pengajaran;

m) evaluator, Guru dituntut untuk menjadi seorang evaluator yang baik dan jujur, dengan memberikan penilaian yang menyentuh aspek intrinsik dan ekstrinsik.

Guru sangat berpengaruh terhadap keberhasilan siswa dikare-nakan faktor-faktor yang melekat pada guru, di antaranya:

a) kepribadian, faktor tingkah laku, wibawa dan karakter akan berpengaruh terhadap proses interaksi;

b) penguasaan bahan, berhasil tidaknya proses interaksi akan terpengaruh juga oleh menguasai tidaknya seorang guru dalam menguasai bahan pelajaran yang diberikan;

c) penguasaan kelas, guru yang dapat menguasai suasana kelas akan berpengaruh tcrhadap proses interaksi edukatif yang ada;

d) cara guru berbicara, guru yang dapat berbicara dan berkomunikasi yang baik dengan murid sangat besar pengaruhnya terhadap hasil belajar anak didiknya;

e) memperhatikan prinsip individualitas, seorang guru jangan terlalu menyamakan kemampuan murid, karena kemampuan seorang murid belum tentu sama dengan yang lainnya;

f) guru harus bersifat terbuka dan mau bekerja sama dengan murid, agar kegiatan belajar mengajar menjadi lancar.

Beberapa peran dan sifat guru yang disebutkan di atas, merupakan bagian dari kemampuan hard skill dan soft skill yang harus dimiliki oleh seorang guru. Dalam rumusan bahasa yang lain, peran dan sifat guru di atas merupakan indikator seorang guru yang memiliki kemampuan teoritis, didaktis metodologis.

Paling tidak ada tiga tahap yang harus dilakukan oleh guru dalam pembelajaran (Nana Sudjana, 1987: 148), yaitu;

a) tahap pra instruksional atau pembelajaran, yakni tahap yang ditempuh pada saat memulai proses belajar mengajar. Ada beberapa kegiatan yang perlu dilakukan oleh guru seperti; membuka pelajaran, melakukan presensi, apersipsi, dan memberi kesempatan  kepada siswa bertanya materi pembelajaran yang belum dikuasai sebelumnya;

b) tahap instruksional, yakni tahap mengkomunikasikan materi pembelajaran. Kegiatan ini meliputi antara lain;  Menjelaskan tujuan pembelajaran kepada siswa.  Menjelaskan pokok materi yang akan dibahas. Membahas pokok materi yang sudah dituliskan. Menggunakan metode yang tepat. Menggunakan media pembelajaran yang memperjelas pembahasan pada setiap materi pelajaran, dan menyimpulkan hasil pembahasan;

c) tahap evaluasi dan tindak lanjut. Tahap ini bertujuan untuk me-ngetahui keberhasilan pembelajaran. Kegiatan yang dapat dilakukan pada tahap ini antara lain; Mengajukan pertanyaan kepada siswa terkait dengan materi pembelajaran yang sudah disampaikan. Memberikan pekerjaan rumah, dan memberitahukan materi yang akan disampaikan pada pertemuan berikutnya kepada siswa.

2) Siswa

Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003, menyebutkan bahwa “siswa adalah anggota masyarakat yang berusaha mengembangkan potensi diri melalui proses pembelajaran yang tersedia pada jalur, jenjang dan jenis pendidikan tertentu”. Sesuai dengan jenjangnya, peserta didik pada  Madrasah Tsanawiyah disebut siswa. Ia harus memiliki kriteria dan syarat tertentu untuk menjadi siswa dalam mengikuti pembelajaran.

Siswa harus menjadi pusat dalam proses pembelajaran dan harus aktif belajar. Dari konsep ini kemudian berkembang men­jadi pola belajar siswa aktif (student active learning), yang di Indonesia dikenal dengan istilah CBSA (Cara Belajar Siswa Aktif), belajar penemuan (dis­covery, inquiry learning), dan yang terakhir adalah belajar kon­struktif (constructive learning). Dalam proses belajar siswa aktif, guru harus mampu mempromosikan fasilitas belajar bagi siswa (promoting facilities for student learning), bahwa guru berfungsi sebagai motivator, yang mampu mengubah sikap siswa dari yang kurang atau tidak berminat belajar menjadi mau dan senang belajar dengan penuh motivasi.

Memfasilitasi berarti guru berfungsi sebagai manajer kelas, dengan tugas merencanakan, mengorganisasikan, menggerak­kan, mengawasi dan mengevaluasi pembelajaran, baik di kelas maupun di laboratorium. Dalam fungsi perencanaan pembelaja­ran, guru juga berfungsi sebagai pemimpin, karena harus mene­tapkan arah dan tujuan pembelajaran bagi siswanya, (Depag RI, 2005: 31)

Di dalam kelas guru juga harus mengelola kelas sedemikian rupa, karena kelas yang dikelola dengan baik berdampak pada cara belajar siswa dan juga pada pembelajaran yang dilakukan oleh guru. Memahami dan mengatur hubungan sebaik mungkin dengan siswanya satu persatu, sehingga mengesankan gurunya sebagai sosok yang oleh Trevor Kerry dan Mandy Wilding dalam buku Effectitive Classroom Teacher; Developing the Skill You Need in Today’s Classroom, yang (a) fairness, (b) honesty, (c) willingness to listen, (d) a sense of humour, (e) interesting, (f) well-organised, (g) consistent, (h), caring, (i) willing to spend time, (k) responsive to individuals, (l) approachable, (m) flexible, dan (n) open (Trevor Kerry dan Mandy Wilding, 2004: 83)

Merujuk pada pernyataan di atas dapat dipahami bahwa guru yang baik akan menimbulkan kesan dalam diri siswanya sebagai guru yang jujur, santun, mau mendengarkan apa yang disampaikan oleh siswanya, memiliki rasa humur, menarik, dapat mengorganisir dengan baik, istiqamah, penuh perhatian, menyediakan waktu untuk siswanya, tanggap dengan setiap siswa termasuk dalam memahami perbedaan individual siswanya, bersahabat atau mudah didekati oleh siswanya, feksibel dalam memperlakukan siswanya dan selalu terbuka. Apabila citra guru sudah sedemikian baik di mata siswa, maka hubungan siswa dengan gurunya akan terjalin dengan erat dan baik dan saling menguntungkan.

a) Karakteristik siswa

Siswa merupakan manusia dengan segala fitrahnya. Ia mempunyai perasaan dan pikiran serta keinginan atau aspirasi. Ia juga  mempunyai kebutuhan dasar yang perlu dipenuhi (pangan, sandang, dan papan), kebutuhan akan rasa aman, kebutuhan untuk mendapatkan pengakuan, dan kebutuhan untuk mengaktualisasi dirinya (menjadi dirinya sendiri sesuai dengan potensinya).

Dalam tahap perkembangannya, siswa Madrasah Tsanawiyah berada pada tahap periode perkembangan yang sangat pesat, dari segala aspek. Berikut ini disajikan perkembangan yang sangat erat kaitannya dengan pembelajaran, yaitu perkembangan aspek kognitif, psikomotor, dan afektif.

(1)  Perkembangan aspek kognitif

Menurut Piaget (1970), periode yang dimulai pada usia 12 tahun, yaitu yang lebih kurang sama dengan usia siswa Madrasah Tsnawiyah, merupakan ‘period of formal operation’. Pada usia ini, yang berkembang pada siswa adalah kemampuan berpikir secara simbolis dan dapat memahami sesuatu secara bermakna (meaningfully) tanpa memerlukan objek yang konkrit atau bahkan objek yang visual. Siswa telah memahami hal-hal yang bersifat imajinatif. Implikasinya dalam pembelajaran rumpun ilmu agama  bahwa belajar akan bermakna kalau materi pembelajaran sesuai dengan minat dan bakat siswa. Pembelajaran rumpun ilmu agama akan berhasil kalau guru mampu menyesuaikan tingkat kesulitan dan variasi materi pembelajaran dengan harapan serta karakteristik siswa sehingga motivasi belajar mereka berada pada tingkat maksimal.

Pada tahap perkembangan ini juga berkembang ketujuh kecerdasan dalam Multiple Intelligences yang dikemukakan oleh Gardner, yaitu: 1) kecerdasan linguistik (kemampuan berbahasa yang fungsional); 2) kecerdasan logis-matematis (kemampuan berfikir runtut); 3) kecerdasan musikal (kemampuan menangkap dan menciptakan pola nada dan irama); 4) kecerdasan spasial (kemampuan membentuk imaji mental tentang realitas); 5) kecerdasan kinestetik-ragawi (kemampuan menghasilkan gerakan motorik yang halus), 6) kecerdasan intra-pribadi (kemampuan untuk mengenal diri sendiri dan mengembangkan rasa jati diri); dan 7) kecerdasan antar pribadi (kemampuan memahami orang lain) (Thomas Armstrong, 2003: 18-38). Di antara ketujuh macam kecerdasan di atas dapat dikembangkan dalam pembelajaran rumpun ilmu agama. Sebagai contoh sederhana, kecerdasan linguistik guru dapat mengajarkan bacaan teks-teks keagamaan seperti bacaan ibadah salat, atau bacaan ayat-ayat Al-Qur’an sampai siswa dapat melafalkannya dengan baik. Kecerdasan logis matematis, guru dapat mengajarkan perhitungan jumlah huruf, ayat dan surat dalam Al-Qur’an. Begitu juga dengan pengembangan kecerdasan yang lainnya.

(2)  Perkembangan aspek afektif

Perkembangan aspek afektif anak juga terkait erat dengan perkembangan kepribadian anak. Fase remaja merupakan saat yang paling penting bagi perkembangan dan integrasi kepribadian. Masa remaja juga merupakan saat berkembangnya identitas diri atau jati diri. Perkembangan identitas diri merupakan isu sentral pada masa remaja yang memberikan dasar bagi masa dewasa.

Pada masa remaja terjadi perubahan jasmani yang cepat, sehingga memungkinkan terjadinya kegoncangan emosi, kecemasan, dan kekhawatiran. Bahkan keyakinan agama yang telah tumbuh pada masa sebelumnya, mungkin pula mengalami kegoncangan. Kepercayaan kepada Tuhan kadang-kadang sangat kuat, akan tetapi kadang-kadang menjadi berkurang yang terlihat pada cara ibadahnya yang kadang-kadang rajin dan kadang-kadang malas. Penghayatan rohaniahnya cenderung skeptis (was-was) sehingga muncul keengganan dan kemalasan untuk melakukan berbagai kegiatan ritual (seperti salat) yang selama ini dilakukannya dengan penuh kepatuhan.

Kegoncangan dalam keagamaan remaja mungkin muncul disebabkan oleh faktor internal maupun eksternal. Faktor internal berkaitan dengan matangnya organ seks yang mendorong remaja untuk memenuhi kebutuhan tersebut, meskipun dia tahu bahwa perbuatannya dilarang oleh agama.

Faktor lainnya adalah sikap independen, ingin bebas, dan tidak mau terikat oleh norma-norma susila maupun agama. Apabila orang tua atau guru kurang memahami hal ini dan tidak mencoba mendekatinya secara baik, maka sikap remaja itu akan muncul dalam bentuk tingkah laku negatif, seperti membandel, oposisi, menentang, menyendiri, dan acuh takacuh.

Adapun faktor eksternal terkait dengan perkembangan budaya dalam masyarakat yang tidak jarang bertentangan dengan ajaran-ajaran agama seperti beredarnya film-film porno, minuman keras, sabu-sabu, dan lain-lain. Faktor lainnya adalah sikap dan tingkah laku orang tua dan masyarakat sekitarnya yang gaya hidupnya kurang mempedulikan nilai-nilai agama, amoral, dan sekuler. Jika remaja kurang mendapat bimbingan keagamaan dalam keluarga, kondisi keluarga yang kurang harmonis, orang tua yang kurang kasih sayang kepada anak, dan berteman sebaya yang kurang peduli dengan nilai-nilai agama, maka akan memicu berkembanganya sikap dan perilaku anak remaja yang kurang baik atau asusila, seperti pergaulan bebas, meminum minuman keras, mengisap ganja, dan membuat onar di tengah masyarakat. (Jalaluddin, 1996: 74).

(c) Perkembangan aspek psikomotor

Perkembangan aspek psikomotor pada anak usia Madrasah Tsanawiyah (MTs) sebenarnya tidak jauh berbeda dengan perkembangan pada anak usia Madrasah Ibtidaiyah (MI), karena usia MTs merupakan kelanjutan dari usia MI. Perkembangan psikomotor pada anak usia MI sudah dapat terkoordinasi dengan baik. Setiap gerakannya sudah selaras dengan kebutuhan atau minatnya. Masa ini ditandai dengan kelebihan gerak atau aktivitas motorik yang lincah. Usia anak MI merupakan masa yang ideal untuk belajar keterampilan. Begitu juga pada masa MTs keterampilan anak semakin berkembang dengan baik, sehingga dapat dijadikan pijakan untuk menentukan pilihan yang akan ditekuninya di usia selanjutnya.

Dalam pembelajaran, guru sejatinya dapat memahami siswanya dengan baik, termasuk memahami perbedaan individual masing-masing siswanya, karena dengan memahami siswa secara baik pembelajaran akan berjalan benar seperti dinyatakan oleh Rita Dunn sebagai berikut;

Students aren’t educated properly unless individual differences (learning styles) are taken into account. She asserts that “most teachers know what to teach but don’t realize that they can’t possibly know how to teach it without first identifying how their children learn (styles) (Joseph Ciaccio, 2004:  96)

3) Materi

Materi pembelajaran terkumpul dalam bentuk kurikulum yang 12 tahun lalu tepatnya tahun 1993 disebutkan bahwa kurikulum Madrasah Tsanawiyah merupakan Kurikulum Pendidikan Dasar Berciri Khas Agama Islam. Berdasarkan keputusan Menteri Agama Nomor 372 Tahun 1993 waktu itu dinyatakan bahwa Kurikulum Pendidikan Dasar Berciri Khas Agama Islam tersebut berlaku mulai tahun pelajaran 1994/1995.

Sejak diundangkannya Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dan diberlakukannya kurikulum 2006, maka kurikulum yang sebelumnya dinyatakan tidak berlaku lagi. Atas alasan tersebut seluruh Madrasah Tsanawiyah saat ini menggunakan kurikulum 2006, yang lebih populer dengan sebutan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP).

Pemberlakuan KTSP di madrasah juga diiringi dengan prangkat pembelajaran yang lain seperti Silabus, Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), Program Semester dan Program Tahunan. Perangkat pembelajaran harus diimplementasikan dalam pembe-lajaran, karena dalam perangkat pembelajaran tersebut dituangkan standar kompetensi, kompetensi dasar, tujuan pembelajaran, materi, metode, sumber belajar dan penilaian pembelajaran yang semuanya dijabarkan dari kurikulum.

Secara aplikatif kurikulum di Madrasah Tsanawiyah diimple-mentasikan degan prinsip-perinsip sebagai berikut:

a) pelaksanaan kurikulum didasarkan pada potensi, perkembangan dan kondisi peserta didik untuk menguasai kompetensi yang berguna bagi dirinya. Dalam hal ini peserta didik haruss mendapatkan pelayanan pendidikan yang bermutu, serta memperoleh kesempatan untuk meng­ekspresikan dirinya secara bebas, dinamis dan menyenangkan;

b) kurikulum dilaksanakan dengan menegakkan kelima pilar belajar, yaitu: (1) belajar untuk beriman dan bertakwa kcpada Allah Yang Maha Esa, (2) belajar untuk memahami dan menghayati, (3) belajar untuk mampu melaksanakan dan berbuat sccara efektif, (4) belajar untuk hidup ber­sama dan berguna bagi orang lain, dan (5) belajar untuk membangun dan menemukan jati diri, melalui proses pembelajaran yang efektif, aktif, kreatif, dan menyenangkan;

c) pelaksanaan kurikulum memungkinkan peserta didik mendapat pelayanan yang bersifat perbaikan, pengayaan, dan/atau percepatan sesuai dengan potensi, tahap perkembangan, dan kondisi peserta didik dengan tetap memperhatikan keterpaduan pengetnbangan pribadi peserta didik yang berdimensi ke-Tuhanan, keindividuan, kesosialan, dan moral;

d) kurikulum dilaksanakan dalam suasana hubungan peserta didik dan pendidik yang saling menerima dan menghargai, akrab, terbuka, dan hangat, dengan prinsip tut wuri handayani, ing madia mangun kar­sa, ing ngarsa sung tulada (bahasa Jawa yang berarti: di belakang memberikan daya dan kekuatan, di tengah membangun semangat dan prakarsa, di depan memberikan contoh dan teladan);

e) kurikulum dilaksanakan dengan menggunakan pendekatan multi-stra­tegi dan multimedia, sumber belajar dan teknologi yang memadai, dan memanfaatkan lingkungan sekitar sebagai sumber belajar;

f) Kurikulum dilaksanakan dengan mendayagunakan kondisi alam, sosial dan budaya serta kekayaan daerah untuk keberhasilan pendidikan dengan muatan seluruh bahan kajian secara optimal.

g) kurikulum yang mencakup seluruh komponen kompetensi mata pelajaran, muatan lokal dan pengembangan diri diselenggarakan dalam keseimbangan, keterkaitan, dan kesinambungan yang cocok dan memadai antar kelas dan jenis serta jenjang pendidikan (Depag RI, 2006: 5).

Dalam buku Pengembangan Ciri Khas Madrasah (Depag RI, 2006: 13), materi pembelajaran rumpun ilmu agama di Madrasah Tsanawiyah merupakan pengembangan ciri khas madrasah untuk memberikan landasan (basic reference) Islami yang kokoh agar siswa memiliki kepribadian yang kuat yang dilandasi oleh nilia-nilai keislaman bagi perkembangan selanjutnya yang kesemuanya dijabar-kan dalam kompetensi lulusan madrasah.

Kompetensi lulusan Madrasah Tsanawiyah dalam buku di atas meliputi; (Depag RI, 2006: 14)

a) meyakini, memahami, dan menjalankan ajaran agama Islam dalam kehidupan sehari-hari serta menjadikan ajaran agama sebagai landasan perilaku dalam kehidupan bermasyarakat;

b) mengagungkan kebesaran Tuhan, Allah SWT;

c) memahami dan menjalankan hak dan kewajiban untuk berkarya dan memanfaatkan lingkungan secara bertanggung jawab;

d) berpikir secara logis, kritis, kreatif, inovatif, memecahkan masalah, serta berkomunikasi melalui berbagai media;

e) menyayangi dan menghargai seni;

f) menjalankan pola hidup bersih, bugar, dan sehat;

g) berpartisipasi dalam kehidupan sebagai cermin rasa cinta kepada Tuhan dan bangga terhadap bangsa dan tanah air;

h) menumbuhkan rasa kasih sayang dan kepedulian sosial.

Adapun materi pembelajaran rumpun ilmu agama Madrasah Tsanawiyah sudah tertuang di dalam buku Standar Isi Madrasah Tsanawiyah yang diterbitkan oleh Departemen Agama RI pada tahun 2006 (Lampiran 1 halaman 1). Materi pembelajaran rumpun ilmu agama dimaksud meliputi;

a) mata pelajaran Al-Qur’an Hadis, yaitu unsur mata pelajaran agama Islam yang memberikan pemahaman kepada siswa tentang Al-Qur’an dan Hadis sebagai sumber ajaran agama Islam;

b) mata pelajaran Akidah Akhlak, yaitu unsur pelajaran agama Islam yang diarahkan untuk menyiapkan siswa mengenal, memahami, menghayati, dan mengamalkan akidah Islam sehingga menjadi manusia muslim yang terus berkembangan keimanan dan ketakwaaanya serta berakhlak mulia;

c) mata pelajaran Fikih, yaitu unsur pelajaran agama Islam yang diarahkan untuk menyiapkan siswa mengenal, memahami, menghayati, dan mengamalkan hukum Islam yang kemudian menjadi dasar pandangan hidupnya (way of life) melalui kegiatan bimbngan, pengajaran, latihan penggunaan, pengamalan, dan pembiasaan;

d) mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam, yaitu unsur pelajaran agama Islam yang diarahkan untuk menyiapkan siswa mengenal, memahami, menghayati sejarah kebudayaan Islam yang kemudian menjadi dasar pandangan hidupnya (way of life) melalui kegiatan bimbngan, pengajaran, latihan penggunaan, pengamalan, dan pembiasaan.

4) Metode pembelajaran

Ada sebuah ungkapan yang sangat populer dalam kaitannya dengan metode pembelajaran, yaitu  الطريقة اهم من المدة “Metode itu lebih penting dari pada materi”. Betapa baiknya materi pembelajaran tanpa digunakan metode yang tepat dalam menyampaikannya kepada siswa, maka sia-sia saja materi tersebut.

Istilah metode berasal dari bahasa Yunani, yaitu methodos. Istilah methodos sendiri terdiri dari dua kata, yaitu metha berarti melalui atau melewati, dan hodos berarti jalan atau cara (Ismail. SM, 2008: 7). Dalam bahasa Arab ada beberapa istilah yang memiliki makna yang sama dengan metode, yaitu at thariqah (الطريقة) , al manhaj (المنهاج), dan al wasilah الوسيلة)) (Abu Tauhied, 1999: 72). Dari kedua pengertian tersebut dapat dipahami bahwa yang dimaksud metode adalah cara yang digunakan oleh seseorang untuk melakukan sesuatu.

Secara definitif metode berarti jalan yang ditempuh oleh seseorang supaya sampai pada tujuan tertentu, baik dalam lingkungan atau perniagaan, maupun dalam ilmu dan yang lainnya (Armai Arief, 2002: 87). Jika kata metode digabungkan dengan pembelajaran, maka dapat didefinisikan sebagai “Cara yang dipergunakan oleh guru dalam mengadakan hubungan dengan peerta didik pada saat berlangsungnya proses pembelajaran” (Ramayulis, 2005: 3). Berdasarkan makna metode, Ahmad Tafsir menjelaskan bahwa metode pembelajaran agama Islam adalah “Cara yang paling tepat dan cepat dalam mengajarkan agama Islam”. Lebih lanjut Tafsir menyatakan bahwa kata tepat dan cepat semakna dengan efektif dan efisien (Ahmad Tafsir, 2000: 9).

Ada banyak metode yang dapat dipakai dalam pembelajaran rumpun ilmu agama, seperti ceramah, diskusi, drill, pemberian tugas, keteladanan, cerita dan lain-lain. Namun demikian bukan pekerjaan yang mudah untuk memilih metode mana yang paling pas dan tepat untuk pembelajaran rumpun ilmu agama. Ada beberapa hal yang harus dipertimbangkan sebelum menentukan metode mana yang akan digunakan dalam pembelajaran, yaitu:

a)  keadaan murid yang mencakup perkembangan tentang tingkat ke-cerdasan, kematangan, perbedaan individual lainnya;

b) tujuan yang hendak dicapai; Jika tujuannya pembinaan daerah kognitif, maka metode drill kurang tepat digunakan;

c) situasi yang mencakup hal yang umum seperti; situasi kelas, situasi lingkungan. Bila jumlah murid begitu besar, maka metode diskusi agak sulit digunakan apalagi bila ruangan tersedia kecil. Metode ceramah harus mempertimbangkan antra lain jangkauan suara guru;

d) alat-alat yang tersedia akan mempengaruhi pemilihan metode yang akan digunakan. Bila metode eksperimen yang akan dipakai, maka alat-alat untuk eksperimen harus tersedia; dipertimbangkan juga jumlah dan mutu alat itu;

e) kemampuan pengajar tentu menentukan, mencakup kemam-puan pisik, keahlian. Metode ceramah memerlukan kekuatan guru secara pisik. Guru yang mudah payah, kurang kuat bercermah dalam waktu yang lama. Dalam hal seperti ini sebaiknya ia menggunakan metode lain yang tidak memerlukan tenaga yang banyak. Metode diskusi menuntut keahlian guru yang agak tinggi, karena informasi yang diperlukan dalam metde diskusi kadang-kdang lebih banyak dari pada sekedar bahan yang diajarkan;

f) sifat bahan pengajaran ini hampir sama dengan jenis tujuan yang dicapai seperti pada poin b) di atas. Ada bahan pelajaran yang lebih baik disampaikan lewat metode ceramah, ada yang lebih baik dengan metode drill, dan sebagainya (Ahmad Tafsir, 2000: 33).

Pemilihan dan penggunaan metode pembelajaran tidak hanya berfungsi mempemudah guru dalam menyampaikan materi pem-belajaran kepada siswa, tetapi juga harus mempertimbangkan bahwa metode tersebut harus dapat membuat siswa senang dalam mengikuti pembelajaran seperti diungkap oleh Judit Kerekes dan Kathleen P. King dalam International Journal of Instruction, yaitu “In the future, we need to engage students in creativity to provide the most enjoyable activities for our future students. We will encourage them to have fun while learning complex areas of study.” (2010, Volume 3, Number 1: 40).

5) Media pembelajaran

Media pembelajaran merupakan segala bentuk perangsang dan alat yang disediakan oleh guru untuk mendorong siswa belajar secara cepat, tepat, mudah, dan tidak verbalisme (Nanang Hanafiah dan Cucu Suhana, 2009: 59). Jika memperhatikan pengertian media pembelajaran di atas dapat dipahami bahwa media pembelajaran termasuk segala yang dapat dimanfaat­kan oleh guru dan siswa sebagai sumber belajar yang dapat merangsang pikiran, pe­rasaan, perhatian, dan kemauan siswa, sehingga mendorong ter­jadinya proses belajar-mengajar yang lebih efektif dan efisien.

Pembelajaran bermedia (mediated learning) merupakan salah satu bentuk pengembangan pembelajaran yang dapat ditawar­kan kepada madrasah, terutama dimaksudkan untuk lebih meningkatkan hasil-hasil pembelajarannya. Pembelajaran bermedia menjadi sangat penting untuk dite­rapkan di madrasah, baik untuk pembelajaran rumpun ilmu agama (al-Dirasat al-Islamiyah) maupun pembelajaran studi-studi lainnya. Hal ini mengingat kemajuan teknologi in­formasi (information technology) yang demikian pesatnya dan merambah hampir seluruh institusi dan kebutuhan masyara­kat. Kemajuan ini tentunya dapat memuaskan baik untuk kajian maupun untuk hiburan.

Bagi madrasah, maraknya software berupa program Al-Di­rasat Al-Islamiyah yang dikembangkan dan diproduksi dalam bentuk CD di banyak Negara Islam, telah memberikan hara­pan besar untuk dapat meningkatkan efisiensi dan efektivitas pembelajaran rumpun ilmu agama di Madrasah Tsanawiyah. Melalui media tersebut juga dapat menciptakan da­tabase studi Islam atau membangun pusat sumber belajar digital (digital learning resources), yang dapat membantu siswa maupun guru untuk belajar secara efisien.

Karakteristik media pembelajaran pada umumnya dapat berfungsi sebagai alat bantu dalam mengembangkan  sebagian besar atau semua po­tensi fisik dan psikologis siswa dalam belajar apalagi manakala dipahami bahwa pembelajaran saat ini diarahkan untuk mengembangkan seluruh potensi siswa. Di antara potensi siswa yang perlu dikembangkan adalah kecerdasan majemuk mereka.

Dalam perkembangan kecerdasan ini ditemukan juga kecer-dasan emosi (emotional quotion, EQ) dan kecerdasan spir­itual (spiritual quotion, SQ) sebagai tipe kecerdasan manusia di samping kecerdasan intelektual (intellectual quotion, IQ). IQ bekerja dengan otak kiri, sedangkan EQ berpusat pada otak kan­an. Sementara itu kecerdasan spiritual bekerja di balik IQ dan EQ, bahkan mengen-dalikan bekerjanya dua tipe kecerdasan itu. Dalam konsep Islam dikenal juga istilah kecerdasan nafsani dan kecerdasan nurani. Kecerdasan nafsani mencakup IQ dan EQ, sedangkan SQ adalah kecerdasan ruhani (Hamdani Bakran, 2006 : 64).

Melalui pembelajaran bermedia, tipe kecerdasan siswa dapat dikembangkan semaksimal mungkin. Dalam hal-hal yang sangat spiritualistik sekalipun, pembelajaran itu dapat dilakukan dengan media. Salah satunya, anjuran Nabi Muhammad saw untuk mengunjungi kuburan — setelah sebelumnya dilarang — adalah contoh pembelajaran ber­media, di mana dengan media kunjungan ke kuburan siswa akan mengingat mati sebagai kelanjutan wajar dari setiap makhluk ber­nyawa, yang pada akhirnya siswa juga akan meyakini akan adanya kehidupan sesudah kematian dan pertanggugjawaban dari apa yang dilakukan selama di dunia.

Sejalan dengan pesatnya perkembangan teknologi informasi saat ini, media pembelajaran dapat diperoleh dengan mudah, baik dalam bentuk CD/DVD maupuan softcopy yang lain terkait dengan rumpun ilmu agama. Materi pembelajaran rumpun ilmu agama dapat dikemas dalam format CD/DVD interaktif yang dapat diakses oleh siswa. Media pembelajaran interaktif lebih bermakna seperti dinyatakan oleh Sousa seperti dikutip oleh Joseph Ciaccio bahwa “A visual approach to learning is more useful than a verbal approach” (Joseph Ciaccio, 2004:  99).

Meskipun media pembelajaran banyak jenis dan bentuknya, tetapt tidak semua media dapat digunakan secara serampangan dalam pembelajaran. Menurut Iwan Ardiansyah, ada beberapa prisip umum penggunaan media, yaitu;

a) penggunaan media tidak dapat berdiri sendiri; dalam arti tanpa melibatkan kompoenen pembelajaran lainnya. Demikian juga, bahwa media haruslah memerlukan modifikasi tertentu dalam sistem, strategi dan teknik-metodologis pembelajaran agar media benar-benar dapat bermanfaat bagi peningkatan proses dan hasil pembelajaran;

b) tidak ada media yang serba cocok dengan keadaan yang bermacam-macam. Keadaan lingkungan fisik dan psikolo­gis siswa dan kelas haruslah dipertimbangkan dalam peng­gunaan media. Perangkat secanggih komputer dan projek­tor tentunya tidak akan banyak manfaatnya bagi siswa yang penglihatannya tidak baik;

c) media pembelajaran yang berupa media rancangan (media by design) tentunya penggunaannya terbatas menurut de­sain yang telah ditetapkan, dan praktis media tersebut tidak efektif untuk sasaran yang berbeda. Demikian juga, media yang dimanfaatkan (media by utilization) seperti bola dunia, peta, penggaris, film, program komputer dan lain-lain, yang dapat ditemukan di pasaran harus pula disesuaikan dengan tujuan dan subyek yang relevan;

d) penggunaan berbagai media secara serampangan, tanpa mem-perhatikan manfaat, tujuan dan sasaran, serta tanpa melalui prosedur pemilihan yang tepat, justru akan menga­caukan pembelajaran;

e) penggunaan media pembelajaran menghendaki adanya per­siapan ekstra dari guru;

f) penggunaan media sedapat mungkin lebih dari sekedar berfungsi sebagai alat bantu mengajar guru (teaching aids) tetapi sebagai sumber belajar yang menempati posisi seb­agai bagian integral dari sistem operasi pembelajaran;

g) tidak diperkenankan menggunakan media untuk sekedar pengisi waktu luang, karena akan merupakan preseden bu­ruk yang mengesankan bahwa bagi siswa media pembela­jaran tidak lebih dari sekedar media hiburan (Iwan Ardiansyah, 2002: 23-26).

Media pembelajaran juga terkait dengan ketersediaan sarana dan prasarana yang dimiliki oleh institusi, karena sarana dan prasarana yang dimiliki dapat membantu proses pembelajaran.  Dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 24 Tahun 2007 tertanggal 28 Juni 2007 disebutkan bahwa sebuah MTs sekurang-kurangnya memiliki prasarana sebagai berikut: a) ruang kelas;  b) ruang perpus-takaan; c) ruang laboratorium IPA;  d) ruang pimpinan; e) ruang guru;  f)  ruang tata usaha; g) tempat beribadah; h) ruang konseling; i) ruang UKS; j) ruang organisasi kesiswaan; k) jamban; l) gudang; m) ruang sirkulasi; n) tempat bermain/berolahraga.

Selain komponen yang disebutkan di atas, ada komponen pembelajaran yang secara tidak langsung terkait dengan pembelajaran, tetapi sangat penting yaitu pimpinan di madrasah. Kepala Madrasah selaku panggungjawab semua kegiatan yang ada di madrasah, memiliki andil dalam mensukseskan pembelajaran yang dilakukan oleh guru. Sejak perencanaan pembelajaran, Kepala Madrasah ikut terlibat dalam kegiatan tersebut dan semua program pembelajaran yang dipakai oleh guru, terlebih dahulu diketahui oleh Kepala Madrasah dengan memeriksa kesiapan program pembelajaran tersebut. Apabila Kepala Madrasah menganggap program pembelajaran sudah siap, maka Kepala Madrasah menandatangani program pembelajaran (Silabus dan RPP) yang dipersiapkan oleh guru. Proses ini lazim dikenal sebagai tugas Kepala Madrasah secara manajerial dan fungsi supervisi.  Dalam buku Standar Pelayanan Minimal Madrasah Tsanawiyah (Depag RI, 2005: 33 – 35) disebutkan beberapa hal yang merupakan tugas Kepala Madrasah sebagai supervisor:

1) kepala madrasah hendaknya dapat membimbing para guru untuk dapat meneliti dan memilih bahan-bahan pelajaran mana yang baik dan sesuai dengan perkembangan anak dan tuntutan kehidupan dalam masyarakat;

2) membimbing dan mengawasi para guru agar mereka pandai memilih metode-metode mengajar yang baik dan melaksanakan metode itu sesuai dengan bahan pelajaran dengan kemampuan anak;

3) menyelenggarakan rapat-rapat dewan guru secara insidental maupun secara periodik, yang khusus untuk membicarakan kurikulum, metode mengajar, dan sebagainya;

4) mengadakan kunjungan kelas (class visit) yang teratur : mengunjungi guru yang sedang mengajar, untuk meneliti bagaimana cara atau metode mengajarnya, kemudian mengadakan diskusi dengan guru yang bersangkutan;

5) mengadakan saling kunjungan kelas antara sesama guru-guru (inter class visit). Hal ini harus direncanakan sebelumnya dengan sebaik-baiknya sehingga guru yang akan diserahi mengajar dan dilihat oleh guru-guru lain itu benar-benar dapat mempersiapkan diri;

6) setiap permulaan tahun ajaran guru-guru diwajibkan menyusun suatu silabus mata pelajaran yang akan diajarkannya, dengan berpedoman kepada rencana pelajaran atau kurikkulum yang berlaku di madrasah itu;

7) pada setiap akhir tahun ajaran masing-masing guru menga­dakan penilaian cara dan hasil kerjanya dengan meneliti kembali hal-hal yang pernah diajarkannya (sesuai dengan silabus) untuk selanjutnya mengadakan perbaikan-perbaikan dalam tahun ajaran berikutnya;

8) setiap akhir tahun ajaran mengadakan penelitian bersama para guru mengenai situasi dan kondisi madrasah pada umumnya, dan usaha memperbaikinya. (sebagai pedoman dalam membuat program madrasah untuk tahun ajaran berikutnya).

Lebih lanjut dalam buku tersebut disebutkan bahwa sebagai implikasi daripada pelaksanaan usaha-usaha tersebut di atas dapat di kemukakan hal-hal sebagai berikut:

1) kepala madrasah hendaknya selalu bertindak sesuai dengan sifat-sifat kepemimpinan yang baik;

2) mengetahui keadaan dan kondisi para guru, seperti keadaan sosial ekonominya. Hal ini sangat penting untuk tindakan kepemimpinan Kepala Madrasah selanjutnya;

3) merangsang semangat kerja para guru. Hal ini dapat dilakukan dengan berbagai cara, sesuai dengan situasi dan kondisi madrasah setempat;

4) menyediakan fasilitas yang memungkinkan para guru untuk dapat menambah dan mempertinggi pengetahuannya;

5) memberi kesempatan kepada para guru untuk mengembangkan rasa tanggung jawab dan partisipasinya terhadap madrasah (dengan pembagian tugas yang serasi dan mendelegasi kekuasaan kepada para guru;

6) membina rasa kekeluargaan antar para guru dan pegawai madrasah. Inipun dapat diusahakan dengan berbagai cara, sesuai dengan kondisi dan situasi setempat;

7) mempererat hubungan madrasah dengan masyarakat, khususnya orang tua murid (membentuk BP3), agar fungsi BP3 benar-benar dapat di manfaatkan untuk kemajuan madrasah (Depag RI, 2005: 33 – 35).

Dalam kontek pembelajaran, tugas Kepala Madrasah di atas banyak yang terkait dengan peningkatan kemampuan guru dalam pembelajaran, dan karena itu posisi Kepala Madrasah dalam pembelajaran yang dilakukan oleh guru sangat penting.

Secara administratif, untuk memangku jabatan Kepala Madrasah diperlukan kualifikasi tertentu, baik kualifikasi secara umum maupun secara khusus pada jenjang dan jenis pendidikan tertentu. Kualifikasi umum yang dimaksud meliputi:

1) memiliki kualifikasi akademik Sarjana Strata Satu (S-1) atau Diploma Empat (D-4) kependidikan atau non kependidikan pada perguruan tinggi yang terakreditasi;

2) pada waktu diangkat sebagai Kepala Madrasah berusia setinggi-tingginya 56 tahun;

3) memiliki pengalaman mengajar sekurang-kurangnya 5 (lima) tahun menurut jenjang sekolah masing-masing, kecuali di Taman Kanak-kanak/Raudhatul Athfal (TK/RA) memiliki pengalaman mengajar sekurang­kurangnya 3 (tiga) tahun di TK/RA; dan

4) memiliki pangkat serendah-rendahnya III/c bagi Pegawai Negeri Sipil (PNS) dan bagi non-PNS disetarakan dengan kepangkatan yang dikeluarkan oleh yayasan atau lembaga yang berwenang.

Selain kualifikasi khusus untuk menjabat sebagai Kepala Madrasah Tsanawiyah adalah:

1) merstatus sebagai guru MTs.;

2) memiliki sertifikat pendidik sebagai guru MTs.; dan

3) memiliki sertifikat kepala MTs. yang diterbitkan oleh lembaga yang ditetapkan pemerintah (Muhaimin, Suti’ah dan Sugeng Listya Prabowo, 2009: 39)

This entry was posted in Artikel.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s