FILSAFAT PENDIDIKAN (Menelusuri Pemikiran Para Maha Guru Sejak Socrates Hingga Immanuel Kant)


Oleh

Hakiki Mahfuzh*

Kata Pengantar

Setiap proses pendidikan membutuhkan tongkat pembimbing yang dapat mengarahkan ke arah mana pendidikan tersebut akan dibawa. Tongkat pembimbing yang dimaksud adalah Filsafat, demikian komentar John S Brubacher seorang Guru Besar Sejarah dan Filsafat Pendidikan di Universitas Yale.

Namun demikian manakala ditelusuri mengenai referensi yang berkaitan dengan Filsafat Pendidikan, sangat terbatas. Keterbatasan referensi ini, merupakan salah satu alasan dari diterbitkannya buku Filsafat Pendidikan (Menelusuri Pemikiran Para Maha Guru Sejak Sokrates hingga Immanuel Kant) tulisan Hakiki Mahfuzh.

Tentang Penulis

Kuliah tenan nich ye

Selain buku-buku yang dijadikan acuan sangat berbobot dengan signifikansi yang sangat baik, penulis merupakan dosen mata kuliah Filsafat Pendidikan sejak pertama kali diangkat sebagai dosen tetap di Universitas Cokroaminoto Yogyakarta.

  Tujuan mata kuliah Filsafat Pendidikan  diharapkan dapat memberikan pengertian kepada mahasiswa dalam memehami pemikiran-pemikiran filosofis di dunia pendidikan dan memeliki wawasan luas tetang pemahaman filosofis di bidang pendidikan.

Pengantar

Jhon S. Brubacher, seorang proffesor di bidang Sejarah dan Filsafat Pendidikan dari Universitas Yale Amerika Serikat dalam bukunya “ A History of the Problems of Education” menyebutkan bahwa persoalan-persoalan pendidikan sudah sejak dulu telah memiliki keterikatan yang sangat erat dengan persoalan-persoalan filsafat (closely interrelated). Brubacher menu-lisnya sebagai berikut ;

Since it’s by nature a process of change, education has peculiar need of guidepost by which to direct its activities. For this guidepost it must go to philosophy. Because education in concerned with what man may become, it is particularly under obligation to inquire about its aims. What a good aims? More basic what is a good? These problems belong to subdivision of philosophy known as Ethic. How does man come to know the good, and when can man be sure that he knows? Moreover what is knowledge? And how can the educator be sure that it is true? And what is truth?  These are questions that must be asked of epistemology, another subdivision of philosophy. Coincident to these problems of another short. What is the nature of the world in which education takes place ……

BAB I BERKENALAN DENGAN FILSAFAT

Setiap diskursus filsafat selalu memunculkan kesalahpahaman tentang kesulitan

A. Pengertian Filsafat

Beberapa ahli menyebutkan bahwa filsafat berasal dari bahasa Arab yang diadopsi dari bahasa Yunani, yaitu diambil dari kata Philoshopia. Filsafat kata Harun Nasution berasal dari kata philein (cinta/love) dan shopos (hikmah/wisdom).

Al Farabi (filsuf muslim terbesar sebelum Ibnu Sina dan sering disebut sebagai KOMENTATOR Aristoteles) menyebutkan bahwa kata filsafat diambil dari kata philosophia, yaitu kata philo (cinta) dan Sophia (hikmah). Oleh sebab itu kata filsafat berarti cinta akan hikmah atau kebijaksanaan

Secara definitif filsafat dimaknakan sebagai berikut ;

1. Plato (427 – 347 sm) Filsafat : Pengetahuan tentang segala yang ada

2. Aristoteles (384 – 322 sm) Filsafat : Menyelidiki sebab dan asas segala benda

3. Marcus Tullius Cecero (106 – 43 sm) Filsafat : Pengetahuan tentang sesuatu yang maha agung dan usaha-usaha untuk mencapai ke arah tersebut

4. Al Farabi (wafat 950 m) Filsafat : Ilmu pengetahuan tentang alam yang maujud karena ia wujud dan bertujuan menyelidiki hakekat yang sebenarnya

5. Al Kindi (801 –873 m) Filsafat : Pengetahuan tentang hakekat hal ihwal dalam batas – batas kemungkinan manusia

6. Harold H Titus (living Issues in Philosophy) Filsafat : (a) An attitude toward life and the universe, (b) Method of reflective thinking and reasoned inquiry, (c) A group of problems, (d) A group of system of thought.

7. Fuad Hasan Filsafat adalah suatu ikhtiar untuk berfikir radikal. Radikal artinya mulai dari radiknya suatu gejala dari akarnya sesuatu yang hendak dimasalahkan dan melalui penjajagan radikal itu, filsafat berusaha untuk sampai kepada kesimpulan universal.

8. E.S Ames (Dasar-dasar Filosofis Kependidikan) Filsfata : A comprehensive view of life and its meaning upon the basis of the result of the various science

Sebuah pemikiran filosofis intinya merupakan salah satu cara yang digunakan oleh manusia untuk menemukan kebenaran melalui pemikiran kontemplatif spekulatif setelah ia gagal menemukan kebenaran tersebut dalam ilmu pengetahuan. Ada tiga macam teori kebenaran yang dicari dalam filsafat, yaitu ;

1. The correspondence theory of truth: Truth is that which conforms to fact, which agree with reality, which corresponds to the actual situation (sesuatu dinyatakan benar apabila ada keserasian dengan fakta yang sesung-guhnya)

2. The concistent theory of truth: Truth is not constituted by the realtion between a judgement and something else, a fact or reality, but by relations between judgements themselves (sesuatu dinyatakan benar apabila sesuai dengan pengetahuan kita)

3. The pragmatic theory of truth: a preposition is true in so far as its works or satisfied (benar tidaknya sesuatu tergantung pada berfaedah tidaknya sesuatu itu.

Objek Filsafat

Sepeti halnya ilmu pengetahuan, filsafat juga memilki objek materi dan objek forma. Objek adalah sesuatu yang diselidiki atau dipikirkan. Objek materia filsafat adalah “segala sesuatu yang menjadi masalah filsafat, yakni sesuatu yang ada dan mungkin ada”. Segala ada dan mungkin ada adalah Hakekat Tuhan, Hakekat Alam dan Hakekat Manusia. Sedang objek forma filsafat adalah; usaha mencari keterangan secara radikal tentang objek materia filsafat.

Fungsi Filsafat

Disamping untuk memperoleh kebenaran, filsafat berfungsi untuk membantu seseorang dalam membangun keyakinan keagamaannya karena kematangan intelektualnya (a study of philosophy should help men, build their religious conviction on fondation which are intellectually mature : tulis Titus)

Sedang Francis Bacon menulis : A little philosophy inclined man’s mind to atheism, but depth philosophy bring men’s to religion.

Ciri Pemikiran Filosofis

Pemikiran filosofis berbeda dengan pemikiran ilmu pengetahuan dan pemikiran agamis. Ciri pemikiran ilmu pengetahuan adalah empiris, realistis. Pemikiran agamis adalah dogmatis intuitif, sedang pemikiran filosofis adalah logis, radik, bijak dan universal

Nisbah antara Filsafat dengan Ilmu Pengetahuan dan Agama

Baik filsafat, ilmu pengetahuan maupun agama memiliki titik singgung dalam hal mencari kebenaran. Oleh sebab itu ada tiga institusi kebenaran, yaitu filsafat, ilmu pengetahuan dan agama. Sedang perbedaannya terletak pada cara ketiga institusi tersebut dalam memperoleh kebenaran. Filsafat memperolehnya dengan pengembaraan akal budi secara radikal, integral, universal, logis dan tidak terikat oleh apapun kecuali oleh kemampuan akal. Ilmu pengetahuan memperolehnya dengan cara penyelidikan (riset), pengalaman (empirik), dan percobaan (eksperimen). Agama memperolehnya dengan informasi yang disampaikan oleh Tuhan melalui wahyu (revelation).

Oleh sebab itu, kebanaran filsafat bersifat spekulatif, kebenaran ilmu pengetahuan bersifat positif obyektif dan kebenaran agama bersifat mutlak. Baik filsafat maupun ilmu pengetahuan dimulai dengan keraguan (doubt) sedang agama dimulai dengan keimanan atau keyakinan/kepercayaan.

Filsafat dan Filsafat Pendidikan

Braunners dan Burus mengemukakan bahwa “Filsafat dan Pendidikan tidak dapat dipisahkan, karena tujuan akhir dari pendidikan merupakan tujuan filsafat”. Begitu juga Henry Nelson dan Henry menulis “Tidak ada ide atau konsep pendidikan tanpa latar belakang pemikiran filsafat, apa yang akan dituju oleh pendidikan, adalah tergantung pada nilai-nilai filsafat”

Untuk membicarakan apa yang dimaksud dengan filsafat pendidikan, lebih dulu perlu dibicarakan sepintas tetang pendidikan. Brubacher dalam Modern Philosophy of Education menulis sebagai berikut ;

Education should be thought as the process of man’s reciprocal adjustment to the nature, to his fellows, and to the ultimate nature of the cosmos. Education is the organized development and equipment of all the powers of human being, moral, intellectual, and physical, by or for their individual and social uses, direct toward the union of these activities whit their creator as their final end. Education is the process in which these powers (abilities and capacities) of men which are susceptible to habituation are perfected by good habit, by mean artistically contrived and employed by a man to help another or himself achieve the end view.

Dalam Democracy and Education John Dewey berpendapat bahwa FISLAFAT PENDIDIKAN adalah : A general theory of Education. Sedang Imam Barnadib (Filsafat Pendidikan : Pengantar Mengenai Sistem dan Metode) menulis bahwa filsafat pendidikan adalah : Ilmu pendidikan yang bersedikan filsafat atau filsafat yang diterapkan dalam usaha pemikiran dan “penye-lesaian” masalah pendidikan.

Omar Muhammad Al Taumi Al Syaebany (Falsafah al Tarbiyah al Islamiyyah) berpendapat bahwa Filsafat pendidikan adalah : Pelaksanaan pandangan falsafah dan kaedah falsafah dalam bidang pendidikan. Selanjutnya Al Syaebany mengatakan bahwa filsafat pendidikan merupakan “Aktivitas pikiran yang teratur yang menjadikan filsafat itu sebagai jalan untuk mengatur, menyelaraskan, dan memadukan proses pendidikan”.

Filsafat pendidikan pada hakekatnya merupakan konsep berfikir tentang kependidikan yang bersumberkan kepada filsafat. Oleh karena itu juga Brubacher mengemukakan bahwa filsafat merupakan tongkat (guidepost) yang dapat membimbing proses pendidikan menuju tujuan yang ingin dicapai.

Beberapa Masalah Pendidikan yang Membutuhkan Pemikiran Filsafat

Tesa beberapa ahli tetang hubungan filsafat dengan pendi-dikan merupakan justifikasi terhadap persoalan atau masalah yang terdapat di dalam pendidikan yang tidak kesemuanya dapat diselesaikan dengan ilmu pengetahuan. Beberapa masalah terse-but adalah ;

1. Masalah utama yang mendasar adalah apakah hakekat pendi-dikan itu ? Mengapa pendidikan itu diterapkan pada manu-sia ? Apa pula hakekat manusia itu ? Bagaimana hubungan pendidikan dengan hidup dan kehidupan manusia ?

2. Apakah pendidikan itu berguna bagi kehidupan manusia ? Apakah potensi hereditas yang menentukan kepribadian manusia itu atakah faktor-faktor yang berasal dari luar ?

3. Apakah sebenarnya tujuan pendidikan itu ? Apakah pendidikan itu untuk individu atau untuk kepentingan masyrakat ?

4. Siapa hakekatnya yang bertanggung jawab terhadap pendidikan itu ? dan sampai dimana tanggung jawab tersebut ?

5. Apakah hakekat pribadi manusia itu ? Manakah yanag lebih utama untuk dididik akal, perasaan ataukah kemauannya ?

6. Apakah isi kurikulum yang relevan dengan pendidikan yang ideal dan lain-lain……………………………… yang kata Hendrik Van Loon dalam “The Story of Mankind” We live under the shadow of a gigantie question mark.

Masalah-masalah di atas memrlukan pemikiran filosofis yang dalam penerapannya menggunakan berbagai pola pendekatan. Dari sinilah kemudian melahirkan berbagai aliran filsafat dalam pendidikan.

to be continued ………

This entry was posted in Artikel.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s