STRATEGI PENERAPAN TEORI KECERDASAN GANDA DALAM PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA


Oleh : Hakiki Mahfuzh

A. Pendahuluan

Diskursus mengenai pembelajaran Pendidikan Agama di sekolah hampir tidak pernah berhenti didiskusikan oleh para pakar pendidikan. Tema diskusi meliputi berbagai aspek dari pembelajaran Pendidikan Agama tersebut. Mulai dari sistem, materi, metode, sistem evaluasi sampai hasil pembelajarannya. Diskusi semakin menarik manakala tema pembicaraan sampai pada tanggungjawab Pendidikan Agama dalam membetuk kepribadian peserta didik. Seringkali Pendidikan Agama dituding sebagai penyebab dari berbagai tindakan peserta didik yang kurang baik.

Pendidikan Agama harus diakui memiliki tujuan yang cukup berat, yaitu meningkatkan iman dan taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, serta memperluas wawasan hidup beragama dengan memperhatikan tunutan untuk menghormati intra umat dalam satu agama dan dalam hubungan antar umat beragama dan hubungan umat beragama dengan pemerintah dalam mewujudkan kesejahteraan umum.

Agar dapat mencapai tujuan Pendidikan Agama tersebut, tentu saja pembelajaran Pendidikan Agama di sekolah harus dilakukan secara padu dan utuh. Padu dan utuh dalam mengapresiasi peserta didik sebagai subyek sekaligus obyek  pendidikan. Peserta didik merupakan makhluk multi demensi dengan beragam potensi kemampuan  dan kelemahan. Potensi kemampuan dan kelemahan manusia terdapat baik pada dimensi fisik maupun psikisnya. Oleh sebab itu, tatapan yang berat sebelah tentang eksistensi peserta didik dari dimensi lahiriyahnya saja, tidak dibenarkan dalam pendidikan, termasuk dalam pembelajaran Pendidikan Agama. Peserta didik tidak cukup hanya memahami atau mengetahui ajaran agama, yang merupakan kecerdasan intelegensinya saja, melainkan juga harus mampu mengembangkan kecerdasan yang lain sebagai aspek dari keutuhan manusia. Pada akhirnya peserta didik diharapkan mampu mengamalkan ajaran agama dalam kehidupan sehari-hari, seperti yang dicita-citakan oleh tujuan pembelajarannya.

Kesadaran akan terbentuknya manusia yang dapat berkembang dengan baik, utuh dan padu semakin jelas apabila melihat paradigma pendidikan internasional PBB yang cenderung semakin manusiawi, realistis, demokratis, dan religius. Paradigma pendidikan internasional tersebut adalah learning to know, learning to do, leraning to be, dan learning to live together.

Dalam konteks ini, teori Kecerdasan Ganda dari Howard Gadner  yang kemudian dikembangkan oleh para tokoh yang lain dapat memperkuat akan terwujudnya hasil pendidikan yang dapat berkembang secara utuh dan padu.

Kecerdasan Ganda yang dikenalkan oleh Gadner meliputi kecerdasan bahasa, logika, visual, tubuh, musikal, interpersonal, naturalis, spiritual, dan kecerdasan eksistensial (C. Asri Budiningsih, 2004 : 128). Bila teori Gadner ini diikuti, maka pembelajaran di bidang Pendidikan Agama juga harus mengembangkan seluruh kecerdasan tersebut.

Mengapa demikian, karena boleh jadi seorang peserta didik tidak dapat memahami dengan baik Pendidikan Agama, tetapi ia mampu dengan baik memaknai ajaran agama dalam kehidupannya. Oleh sebab itu, Budiningsih (2004 : 128) mengungkapkan bahwa Tidak ada manusia yang sangat cerdas dan tidak cerdas untuk seluruh aspek yang ada pada dirinya. Yang ada adalah manusia yang memiliki kecerdasan yang tinggi pada salah satu kecerdasan yang dimilikinya.

Lantas apa yang dapat dilakukan untuk mengembangkan kecerdasan–kecerdasan yang dimiliki oleh perta didik dalam pembelajaran Pendidikan Agama ? Di sini perlu dibuat strategi pembelajaran Pendidikan Agama agar pengembangan kecerdasan yang terdapat dalam diri peserta didik dapat dioptimalkan.

B. Strategi Pengembangan Kecerdasan Ganda dalam Pembelajaran Pendidikan Agama

Menurut Noeng Muhajir (1993 : 109) strategi adalah suatu penataan potensi dan sumber daya agar dapat efisien dalam memperoleh hasil sesuai yang dirancang. Secara umum strategi memiliki pengertian sebagai suatu garis besar haluan dalam bertindak untuk mencapai sasaran yang telah ditentukan.

Strategi pembelajaran Kecerdasan Ganda Gadner bertujuan agar seluruh potensi peserta didik dapat berkembang dengan baik. Untuk itu strategi dasar pembelajrannya dimulai dengan membangun atau memicu kecerdasan, memperkuat kecerdasan, mengajarkan untuk atau dengan kecerdasan, dan mentransfer kecerdasan.

Satu dari Kecerdasan Ganda yang dikenlakan oleh Gadner dalam bidang Pendidikan Agama adalah kecerdasan Spiritual (Spiritual Intelligence). Zohar dan Marshal (2001 : 231) mengajukan tujuh langkah praktis dalam mengembangkan kecerdasan Spiritual ini, yaitu

1. Menyadari keberadaan diri, yaitu menggali kesadaran diri tentang situasi dan kondisi diri dengan melakukan perenungan-perenungan. Dalam pendidikan Agama, strategi seperti ini sangat efektif untuk menemukan diri di tengah berbagai macam struktur dan fungsi makhluk-makhluk yang lain.

2.  Merasakan dengan kuat keinginan untuk berubah. Langkah ini me-rupakan kelanjutan dari strategi sebelumnya, yaitu merasakan hasil dari perenungan diri dan membawanya kepada keinginan unuk berubah. Berubah menuju kepada kebaikan dan kebaktian merupakan anjuran agama.

3. Merenungkan tentang pusat diri dan motivasi ke dalam diri. Strategi ini merupakan usaha untuk menemukan makna dari situasi dan kondisi yang dialami berdasarkan hati nurani yang memberikan motivasi yang dalam mengarahkan perubahan yang diinginkan

4. Menemukan dan mengatasi rintangan, yaitu mencari penghambat perkembangan diri dan berusaha mengatasinya. Dalam bahasa agama mengatasi rintangan dapat terwujud dalam perlawanan meminalisir pengaruh jelek dari hawa nafsu

5. Menggali berbagai kemungkinan untuk  melangkah maju dengan mencari berbagai cara yang dapat ditempuh untuk mengembangkan diri

6. Menetapkan hati pada sebuah jalan dengan menentukan salah satu cara yang dianggap paling tepat

7. Tetap menyadari bahwa terdapat banyak jalan yang dapat ditempuh.

Ketujuh strategi tersebut dapat dipakai dalam pembelajaran Pendidikan Agama, sehingga ajaran agama tidak cukup hanya dipahami dan diketahui, melainkan dirasakan dan diaktualisasikan dalam kehidupan sehari-hari.

Selama ini pembelajaran Pendidikan Agama cenderung berpola kognitif. Artinya peserta didik dianggap berhasil dengan baik di bidang ini apabila pengetahuan agamanya baik. Pola seperti ini yang banyak dilakukan dalam pembelajaran Pendidikan Agama, sehingga agama tidak memberi makna yang berarti dalam perilaku sehari-hari.

Apabila guru Pendidikan Agama mengadopsi strategi Zohar dan Marshal dalam pembelajaran Pendidikan Agama, maka upaya yang pertama kali dilakukan adalah membangkitkan atau membangun kecerdasan spritual peserta didik melalui penyadaran diri dengan perenungan tentang posisi diri di antara makhluk-makhluk yang lain. Selanjutnya mengikuti strategi yang lain, sampai ketujuh strategi Zohar dan Marshal dapat dituntaskan.

Pengembangan kecerdasan spiritual semata-mata dalam pembe-lajaran Pendidikan Agama juga kurang tepat, mengingat setiap peserta didik memiliki beragam kecerdasan.

Pengembangan kecerdasan bahasa dalam pembelajaran Pendidikan Agama dapat dilakukan dengan mengotimalkan rasa dalam memaknai bahasa agama, sehingga ajaran agama dapat dikomuni-kasikan dengan santun. Begitu juga dengan kecerdasan logika dikembangkan melalui berfikir matematis-logis, sehingga ajaran agama dapat dipahami dan diterima secara rasional, begitu juga kecerdasan yang lain.

Dalam kaitan ini guru tidak dapat lagi memaksakan kehendak dalam pembelajaran Pendidikan Agama kepada peserta didik. Ia hanya dapat memotivasi kecerdasan mana yang akan memimpin dan menonjol dalam diri peserta didik untuk memahami makna kehadiran agama di kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, peserta didik akan mengapresiasi ajaran agama sesuai dengan keinginan dan kesukaannya, bukan karena keterpaksaan. Pada gilirannya ia akan menjalankan ajaran agama dengan baik di kehidupan sehari-harinya. Biarkan peserta didik berkembang mengikuti kecerdasan yang dimilikinya agar keterampilan hidup didapat dengan memuaskan berdasarkan kesukaan dan kerelaan.

C. Kesimpulan

Ada beberapa kesimpulan yang dapat ditarik dari pembahasan teori Kecedasan Ganda dalam pembelajaran Pendidikan Agama, yaitu :

1. Teori Kecerdasan Ganda dari Howard Gadner pada prinsipnya dapat diadaptasikan pada semua mata pejaran di sekolah. Hanya saja dalam penerapannya akan lebih baik jika dikombinasi dengan teori-teori belajar yang lain.

2. Kemampuan guru dalam memahami setiap teori belajar sangat penting untuk memperoleh kombinasi teori terbaik dalam pembelajaran.

3. Spritual Intelligence merupakan teori yang utama dalam mengem-bangkan pemahaman agama kepada peserta didik di bidang pembelajaran Pendidikan Agama.

4. Satu hal yang perlu diperhatikan oleh guru dalam penerapan teori Kecerdasan Ganda adalah, biarkan anak mengembangkan kecerdasan mana yang paling menonjol dalam dirinya untuk memimpin kecerdasan-kecerdasan lain yang dimilikinya.

DAFTAR PUSTAKA

C. Asri Budiningsih : 2004, Belajar dan Pembelajaran, Yogyakarta : FIK UNY,

Noeng Muhajir: 1993, Ilmu Pendidikan dan Perubahan Sosial, Suatu Teori Pendidikan, Yogyakarta : Reka Sarasin

Danel Goleman : 2001,  Kecerdasan Emosi Untuk Meraih Puncak Prestasi, Jakarta : Gramedia

Zohar Danah dan Marshal Ian : 2001, SQ Memanfaatkan Kecerdasan Spiritual dalam berfikir Integralistik dan Holistik untuk Memaknai Kehidupan, Bandung, Mizan.

This entry was posted in Artikel.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s