JENIS PENDIDIKAN DALAM AL-QUR’AN


Oleh : Hakiki Mahfuzh*

Abstact

It is well known that the holy Al-Qur’an is not book of education, although it speaks many aspects of educational processes well. Moreover Al-Gazali find about 1.404  verses in the Al-Qur’an indicate the importance of education in Islam.

At least, there are seven kinds of education informed in the holy Al-Qur’an that in accordance with the body human aspects. They are The Body Education (Tarbiyah al-Jismiyah), The Intellectual Education (Tarbiyah al-‘Aqliyah), The Divine Education (Tarbiyah Ilahiyah), The Moral Education (Tarbiyah al-Khulqiyah), The Soul or Spirit Education (Tarbiyah ar-Ruhiyah), The beauty Education, (Tarbiyah al-Jamaliyah) and The Social Education (Tarbiyah al-Ijtima’iyah).

Those kinds of education mentioned above anable to make human being ready to do the khalifah’s duties in the earth.

A. Pendahuluan

Salah satu fungsi diturunkannya Al-Qur’an adalah sebagai hudan (petunjuk) yang menjamin kebahagiaan hidup manusia di dunia saat ini dan di kehidupan akhirat nanti. Ia merupakan kerangka acuan paripurna yang terbaik bagi manusia dengan satu kepastian menuju jalan lurus yang diridai oleh Allah.1) Berdasarkan alasan ini, maka menjadi sebuah kahrusan bagi setiap muslim bergumul secara intens dan terus menerus dengan Al-Qur’an, agar dapat menangkap sinyal yang dipancarkan oleh sudut-sudutnya, sehingga tidak tersesat dalam mengarungi kehidupan di dunia dan sampai ke akhirat dengan selamat.

Abdullah Yusuf Ali dalam The Holy Qur’an, Text, Translation and Commentary, menulis sebagai berikut:

It is the duty of every Muslim, man, woman, or child to read the Qur’an and understand it according to his own capacity. If any one of us attains to some knowledge or understanding of it by study, contemplation, and the test of life both outward and inward, it is his duty, according to his capacity. To instruct other and share with them the joy and peace which result from contact, with spritual world. The Qur’an—indeed every  religious book—has to be read not only with the tangue and voice and eyes, but with the best light that our intellect can supply, and even more, with the truest and purest light which our heart and conscience can give us.2)

Studi terhadap Al-Qur’an yang mempunyai keluasan makna tak terbatas tidak akan pernah usai dan salalu aktual. Muhammad Arkoun — pemikir muslim kontemporer kelahiran Al-Jazair — menulis tentang ayat-ayat Al-Qur’an sebagai berikut:

Al-Qur’an merupakan kitab suci yang mengandung kemungkinan makna yang tak terbatas. Ia menghadirkan berbagai pemikiran dan penjelasan pada tingkat dasariah, eksistensi yang absolut. Ia dengan demikian selalu terbuka dan tak pernah tetap dan tertutup hanya pada satu penafsiran makna.3)

Hal yang sama juga dikemukakan oleh Abdullah Darraz — Ulama besar Universitas al-Azhar — menulis sebagai berikut:

Apabila Anda membaca Al-Qur’an, maknanya akan jelas di hadapan Anda. Tetapi bila Anda membaca sekali lagi, maka Anda akan menemukan pula makna-makna lain yang berbeda dengan makna terdahulu. Demikian seterusnya, sampai-sampai Anda (dapat) menemukan kalimat atau kata yang mempunyai arti bermacam-macam. Semuanya benar atau mungkin benar … (ayat-ayat Al-Qur’an) bagaikan intan. Setiap sudutnya memancarkan cahaya yang berbeda dengan apa yang terpancar dari sudut-sudut lain. Dan tidak mustahil jika Anda mempersilahkan orang lain memandangnya, maka dia akan melihat lebih banyak dari apa yang Anda lihat.4)

Sebagai obyek materia ilmu pengetahuan, sangat mungkin Al-Qur’an melahirkan beragam macam cabang ilmu pengetahuan. Satu sudut yang dipancarkan oleh Al-Qur’an sebagai obyek forma, akan melahirkan satu disiplin ilmu, baik ilmu-ilmu eksakta, sosial, humaniora, eskatologi maupun cabang ilmu pengetahuan yang lain. Mahmud Yunus memandang bahwa Al-Qur’an memiliki kandungan isi yang sangat luas meliputi keimanan (akidah), hukum (syari’ah), pengajaran akhlak, ekonomi, dan ilmu pengetahuan yang lain.5)

Dalam konteks ilmu kependidikan, Al-Gazali telah melakukan survai terhadap ayat-ayat Al-Qur’an dan diperoleh 1.404 ayat atau hampir 25% dari keseluruhan ayat dalam Al-Qur’an menunjukkan pentingnya pendidikan menurut pandangan Islam.6) Begitu juga Munawar Khalil dalam Al-Qur’an dari Masa ke Masa, menyebutkan bahwa di dalam Al-Qur’an banyak ayat-ayat yang mengandung ilmu pendidikan atau cara mendidik atau paedagogis. Ilmu ini sangat dipentingkan oleh Al-Qur’an, karena dengan ilmu ini umat manusia agar tetap dapat menjaga, memelihara prikemanusiaannya dan mengerti akan tugas kewajibannya selaku manusia yang diciptakan oleh Tuhan dalam bentuk sebaik-baiknya.7)

Meskipun Al-Qur’an meliputi segala hal (Tibyanan li kulli syai).8), tetapi Al-Qur’an tidak memerinci secara detail cakupan isinya. Salah satu hikmah dari ketidakdetailan cakupan isi Al-Qur’an adalah manusia selalu dinamis dalam menggunakan akal fikirnya untuk melakukan studi terhadap Al-Qur’an. Jika cakupan isi Al-Qur’an terperinci, maka dinamika berfikir akan mandek, terikat dan statis.

Sumuliyah atau komprehensifitas Al-Qur’an meliputi segala hal (Tibyanan li kulli syai), diakui oleh para ulama bahwa kitab suci ini berisi prinsip-prinsip dasar yang dibutuhkan oleh manusia dalam menginterpretasi ayat-ayatnya. Kemampuan menginterpretasi ini lebih lanjut akan melahirkan beragam ilmu pengetahuan, termasuk pendidikan.

Prinsip-prinsip dasar tentang pendidikan dalam Al-Qur’an diinformasikan bahwa proses pendidikan lahir bersamaan dengan diciptakannya manusia oleh Allah untuk mengemban tugas kekhalifahan di atas bumi.9) Hal ini menunjukkan bahwa pendidikan bersifat tabiiyah, yakni sesuai dengan tabiat hidup manusia untuk mengemban jabatan khalifah.

Agar dapat mengemban jabatan khalifah (vice regent) Allah, sejak awal penciptaannya manusia dilengkapi potensi, sehingga dianggap layak memangku jabatan khalifah.10) Potensi yang diberikan oleh Allah kepada manusia tidak dapat aktual, tanpa diupayakan lewat proses pendidikan. Dalam konteks ini, keterkaitan manusia dengan pendidikan merupakan sesutau yang vital dan urgen.

B. Pendidikan dalam Al-Qur’an

Studi tentang pendidikan dalam Al-Qur’an, berarti juga studi tentang manusia dalam perspekif Al-Qur’an. Mencari dan menggali konsep manusia dalam Al-Qur’an tersebut sangat penting, karena dengan demikian akan ditemukan ciri-ciri pokok atau karakteristik manusia berdasarkan Al-Qur’an dan selanjutnya merumuskan perencanaan pendidikan untuk manusia.

Abu A’la al-Maududi — ulama dan pemikir Pakistan — dalam dua buah buku karya besarnya The Meaning of the Qu’an dan The Basic Principles of Understanding Al-Qur’an, menyebutkan bahwa tema sentral pembicaraan Al-Qur’an adalah manusia.11)

Meskipun studi tentang manusia dalam perpektif Al-Qur’an melahirkan beragam sudut pandang12), tetapi mereka sampai pada kesimpulan bahwa manusia memiliki dua dimensi yaitu pisik dan psikis yang harus ditumbuhkembangkan secara simultan, utuh, dan kontinu agar dapat mengabdi (sebagai hamba) kepada Allah dengan benar. Benar tidaknya pengabdian tersebut sangat tergantung pada proses pendidikan yang dilakukan dan dilalui oleh manusia.

Dimensi pisik maupun psikis manusia menjadi obyek garapan pendidikan yang implementasinya dapat terwujud dalam beragam macam atau jenis pendidikan. Penelitian Ali Khalil Abu al-‘Ainaini, dalam Falsafah at-Tarbiyah al-Islamiyah fi al-Qur’an al-Karim, menemukan jenis-jenis atau macam-macam pendidikan yang terkait dengan kedua dimensi di atas. Jenis-jenis pendidikan tersebut adalah:

1. Pendidikan Jasmani (Tarbiyah al-Jismiyah)

2. Pendidikan Akal/Kecerdasan (Tarbiyah al-‘Aqliyah)

3. Pendidikan Akidah/Ketuhanan (Tarbiyah Ilahiyah)

4. Pendidikan Akhlak/Moral/Susila (Tarbiyah al-Khulqiyah)

5. Pendidikan Jiwa/Rohani (Tarbiyah ar-Ruhiyah)

6. Pendidikan Keindahan/Estetika dan (Tarbiyah al-Jamaliyah)

7. Pendidikan Kemasyarakatan/Sosial (Tarbiyah al-Ijtima’iyah).13)

Ketujuh jenis pendidikan tersebut, prinsip dasarnya terdapat dalam Al-Qur’an yang tersebar dalam beberapa ayat dan surah. Interpretasi dan elaborasi terhadap ayat dalam Al-Qur’an sangat urgen, agar ayat yang berkaitan dengan ketujuh jenis pendidikan tersebut dapat diimplementasikan dalam praktek pendidikan sehari-hari.

1. Pendidikan Jasmani (Tarbiyah al-Jismiyah)

Pendidikan jasmani yang dimaksud bukan sekedar dalam bentuk olah raga yang bertujuan menyehatkan tubuh, melainkan tercakup juga di dalamnya tujuan pembentukan watak. Melalui pendidikan jasmani diharapkan dapat tumbuh dan berkembang  dalam diri peserta didik sifat dan tabiat yang baik, seperti sportif, disiplin, kerjasama, dan sebagainya.

Pendidikan jasmani tidak hanya bertujuan sehat jasmani saja, melainkan juga pada kesehatan rohani secara imbang, sebab antara jasmani dan rohani terdapat ikatan harmonis yang tidak dapat dipisahkan. Pakar di bidang psikoklinis seperti Sigmund Freud misalnya menemukan bahwa dimensi pisik (jasmani) terkait erat dengan dimensi psikis (rohani).

Kesehatan dan kekuatan jasmani diperlukan untuk mengoptimalkan peran jasmani dalam segala hal. Al-Qur’an mensinyalir dalam Surah al-Anfal (8) ayat 60, sebagai berikut:

Artinya : Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggetarkan musuh Allah, musuhmu dan orang-orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya…. (Q.S. 8 : 60)

Ayat di atas menegaskan urgensi kesehatan dan kekuatan jasmani dimiliki oleh setiap muslim, agar dapat mengaktualisasikan peran dan fungsinya sebagai khalifah di atas bumi.

Pendidikan jasmani merupakan hak jasmani. Siapa pun yang tidak mendidik (melatih) jasmaninya, berarti merampas hak jasmaniyahnya. Islam mengajarkan agar manusia tidak menyakiti jasmaninya, seperti minum minuman keras, berpuasa secara berlebihan, makan harta yang tidak halal, termasuk dalam bersedekah tidak dibenarkan mensedekahkan seluruh harta sehingga melupakan kebutuhan diri sendiri dan keluarga. Dalam konteks ini Allah berfirman.14) Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, Nabi bersabda sebagai berikut:

Artinya : Hai Abdullah, bukankah telah dikabarkan kepadaku bahwasanya engkau berpuasa sepanjang hari dan bersalat sepanjang malam, apakah yang demikian itu betul? Maka saya menjawab, betul ya Rasulullah. Kemudian Nabi bersabda: “Jangan berbuat demikian, berpuasa dan berbukalah, tidur dan bangunlah! Sesungguhnya bagi jasmanimu bagimu ada hak, dan bagi matamu juga ada hak.15)

Berdasarkan informasi Al-Qur’an dan al-Hadis di atas, semakin jelas urgensi dan posisi pendidikan jasmani bagi peserta didik sesuai dengan porsinya. Jasmani merupakan bagian yang tidak terpisahkan (koheren) dari eksistensi makhluk yang bernama manusia.

Implementasi dari tarbiyal al jismiyah ini dapat dimulai sejak balita dengan melatih anak ketawa, memegang, merangkak, berjalan, dan gerakan-gerakan motorik yang lain. Pesan Rasul dalam satu kesempatan agar kita mengajarkan kepada anak-anak berenang, memanah dan menunggang kuda merupakan manifestasi dari perwujudan pendidikan jasmani ini.

2. Pendidikan Akal/Kecerdasan (Tarbiyah al-‘Aqliyah)

Islam mendidik umatnya agar senantiasa menggunakan potensi akal pikirannya. Melalui potensi akalnya manusia dapat mengamati, memahami, memikirkan dan mempelajari makhluk-makhluk Allah (tafakkaru fi khalqillah wa la tafakkaru fi zatillah) kemudian mengambil i’tibar dari makhluk-makhluk ciptaan-Nya itu. Tidak sedikit ayat di dalam Al-Qur’an yang menyuruh manusia agar menggunakan akal pikirannya.

Terdapat beragam kata yang digunakan oleh Al-Qur’an untuk menggambarkan perbuatan berpikir seperti:16)

a. Nazara, melihat secara abstrak, dalam arti berpikir dan merenungkan. Terdapat lebih dari 30 ayat dalam Al-Qur’an, antara lain sebagai berikut:17)

Artinya : Maka hendaklah manusia memperhatikan dari apakah dia diciptakan? (Q.S. 85 : 5)

Artinya : Maka apakah mereka tidak melihat akan langit yang ada di atas mereka, bagaimana Kami meninggikannyadan menghiasinya dan langit itu tidak mempunyai retak-retak sedikitpun (Q.S. 50 : 6)

b. Tadabbara, merenungkan, seperti ayat berikut:18)

Artinya : Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al-Qur’an atakah hati mereka terkunci? (Q.S. 47 : 24)

Artinya : Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yangmempunyai fikiran (Q.S. 38 : 29)

c. Tafakkara, berpikir, terdapat lebih dari 15 ayat, antara lain sebagai berikut:19)

Artinya : Katakanlah “Aku tidak mengatakan kepadamu, bahwa perbendaharaan Allah ada padaku, dan tidak (pula) aku mengetahui yang haib dan tidak (pula) aku mengatakankepadamu bahwa aku seorang malaikat. Aku tidak mengikuti kecuali apa yang diwahyukan kepadaku. Katakanlah! “Apakah sama orang yang buta dengan orang melihat?” Maka apakah kamu tidak memikirkan (nya)? (Q.S. 6: 50)

d. Faqiha, mengerti, paham, terdapat di dalam 20 ayat, antara lain sebagai berikut:20)

Artinya : Tidak sepatutnya bagi orang-orang yang mukmin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya (Q.S. 9 : 122)

e. Tazakkara, mengingat, memperoleh peringatan, mendapat pelajaran, memperhatikan dan mempelajari. Terdapat lebih dari 100 ayat, antara lain sebagai berikut:21)

Artinya : Maka apakah (Allah) yang menciptakan itu sama dengan yang tidak dapat menciptakan (apa-apa)? Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran? (Q.S. 16 : 17)

f. Fahima, memahami dalam bentuk fahhama, sebagai berikut:22)

Artinya : maka Kmi telah memerikan pengertian kepada Sulaiman tentang hukum (yang lebih tepat), dan kepada masing-masing mereka telah Kami berikan hikmah dan ilmu dan telah Kami tundukkan gunung-gunung dan burung-burung, semua bertasbib bersama Daud . Dan Kamilah yang melakukannya (Q.S. 21 : 79)

g. ‘Aqala, akal pikiran, terdapat dalam 50 ayat lebih, antara lain sebagai berikut:23)

Artinya : dan pada pergantian malam dan siang  dan hujan yang diturunkan oleh Allah dari langit lalu dihidupkannya dengan air hujan itu bumi sesudah matinya; dan pada perkisaran angin terdapat pula tanda-tanga (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berakal (Q.S. 45 : 5)

Selain beberapa istilah di atas, ada beberapa istilah yang juga digunakan oleh Al-Qur’an yang semuanya mengarah pada sifat dan kegiatan berpikir yaitu Ulu al-Babb, Ulu al-Absar, Ulu al-‘Ilmi, dan Ulu an-Nuha.

Berpikir merupakan ciri dari entitas makhluk yang bernama manusia dan kemampuan berpikir ini juga menjadi pembeda dari makhluk-makhluk yang lain. Salah satu tujuan pendidikan akal atau kecerdasan adalah melatih dan mempertinggi daya berpikir peserta didik. Melalui kecerdasan berpikir, peserta didik dapat memperoleh ilmu pengetahuan yang pada gilirannya diharapkan mampu mengantarkan kepada pemahaman ma’rifat tentang Allah swt.

Tarbiyah al Aqliyah dalam Islam menjadi aktual pada saat anak memasuki fase tamziz, yang diindikasikan dengan kemampuan peserta didik mengetahui dan membedakan hal yang baik dari yang buruk. Mulai saat itu juga kewajiban taklif untuk menjalankan perintah dan menjahui larangan dibebankan kepadanya.

3. Pendidikan Akidah/Ketuhanan (Tarbiyah Ilahiyah)

Pendidikan Ketuhanan merupakan awal dari suatu gerakan historis misi kenabian, sejak Nabi Adam sampai Nabi Muhammad saw. Pendidikan Ketuhanan, meliputi penjelasan dan internalisasi makna uluhiyah, rububiyah, dan ‘ubudiyah manusia kepada penciptanya (Allah swt.) semata.24)

Mengesakan akidah merupakan tujuan tertinggi pendidikan. Barang siapa yang mengesakan akidahnya, berarti mengesakan tujuan pendidikan dengan mengatur, mengarahkan dan merubah jalan pikirannya kepada tauhid, yaitu mengarahkan manusia agar menjadi hamba Allah yang salih dengan jalan mengetahui dan mengabdikan diri hanya kepada-Nya.25) Sampai pada tahap ini pengabdian secara total (complete submission) kepada Allah betul-betul terwujud antara makhluk dengan khalik-Nya, (wama khalaqtu al-jinna wa al-insana illa li ya’buduni). Ajakan Al-Qur’an kepada manusia untuk mengakui bahwa Allah swt. merupakan Tuhan mereka yang sebenarnya, sebagai berikut:26)

Artinya : Sesungguhnya Tuhanmu hanyalah Allah, yang tidak ada Tuhan selain Dia. Pengetahuan-Nya meliputi segala sesuatu (Q.S. 20 : 98)

Persaksian syahadah dalam mentauhidkan Allah SWT, tidak berhenti pada pengakuan akan keesaan Allah semata, melainkan berkosekwensi dan berimplikasi pada kesatuan pemahaman tentang unity of creation (kesatuan penciptaan), unity of mankind (kesatuan kemanusiaan), unity of guidance (kesatuan petunjuk hidup), dan unity purpose of life (kesatuan tujuan hidup).

Kesatuan pandangan tauhid ini diharapkan bisa berdampak pada sikap dan perilaku  sehari-hari. Pelaksanaannya bisa dilakukan sedini mungkin untuk mengenalkan Allah kepada peserta didik. Dalam “tradisi” Islam, sewaktu anak lahir sudah dikenalkan dengan kumandang azan di telinga kanan dan iqamah di telinga kiri sebagai stimulus agar tetap mengesakan Alllah SWT.

4. Pendidikan Akhlak/Moral/Susila (Tarbiyah al-Khulqiyah)

Pendidikan akhlak sangat dipentingkan oleh Al-Qur’an, mengingat keberadaan manusia sebagai makhluk yang memiliki pertanggungjawaban religi dalam hubungan vertikal dengan Tuhan dan horizontal terhadap sesamanya.

Akhlak yang baik tidak hanya dimanifestasikan dalam hubungan antara makhluk dengan khaliknya atau hubungan antara sesamanya, melainkan lebih dari itu. Dalam Hubungan dengan segala yang terdapat dalam wujud dan kehidupan ini, Islam tetap mengharuskan diterapkannya akhlak yang terpuji.27)

Akhlak merupakan standar kepribadian manusia. Walau bagaimana hebatnya manusia, tanpa diimbangi, diiringi dan dihiasi perilakunya dengan akhlak yang terpuji, sia-sialah kehebatan itu. Al-Qur’an dalam hal ini mensinyalir sebagai berikut:28)

Artinya : Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri (Q.S. 31 : 18)

Dalam hadis yang diriwayatkan oleh at-Tabrani, Rasullah saw. bersabda sebagai berikut:

Artinya : Sebaik-baik manusia ialah yang terbaik budi pekertinya, (HR. at- Tabrani).

Moralitas dalam Islam bersifat menyeluruh atau holistik, bulat dan terpadu. Suatu kebulatan moral, mengandung aspek normatif (kaidah, pedoman) dan operatif (landasan perilaku) bagi manusia.29) Oleh sebab itu, manusia yang berakhlak Islam akan memiliki integritas kepribadian yang utuh dalam bersikap dan berperilaku. Sesuai antara yang diucapkan dengan yang dilakukan dan jauh dari sifat hipokrit.

Pendidikan Akhlak merupakan misi kenabian Muhammad saw. yang pertama kali diajarkan kepada umat manusia. Bahkan tugas utama beliau adalah menyempurnakan dan mendidik akhlak “Innama bu’istu li utammima makarim al akhlaq”.

Pada tingkat dasar, pendidikan akhlak diterima oleh peserta didik melalui proses imitasi. Oleh sebab itu metode uswatun khasanah dari pendidik merupakan alternatif yang menduduki peringkat utama dalam literatur pendidikan Islam. Pendidik harus berakhlak al karimah lebih dahulu sebelum mendidik orang lain.

5. Pendidikan Rohani/Jiwa (Tarbiyah ar-Ruhiyah)

Manusia diciptakan oleh Tuhan dari dua unsur yang saling berketergantungan (interdependence), yaitu Madiy dan Gairu Madiy. Unsur Madiy disebut juga Jisim atau Badan. Sedang unsur Gairu Madiy meliputi al-‘Aql, an-Nafs, dan al-Ruh. Interdependesi keduanya melahirkan wujud makhluk yang disebut manusia.

Dalam Islam untuk menunjuk istilah jiwa, digunakan juga istilah Qalb (hati, ruh), Nafs (jiwa, nyawa), dan Aql (akal pikiran). Nafs lebih menekankan atau menyatakan sebagai unsur penggerak dan aktivitas biologis.30) Al-Qur’an menggunakannya dalam empat pengertian, yaitu nafas atau nyawa, nafsu, jiwa, dan diri atau keakuan.31)

Nafs dalam pengertian nyawa atau nafas terdapat dalam surah  Surah Ali Imran (3): 185, al-Anbiya’ (21): 35, az-Zumar (39): 42. Nafs dalam pengertian nafsu seperti terdapat  dalam surah  Surah Yusuf (12): 53. Nafs yang menunjuk pada pengertian jiwa disebutkan dalam Al-Qur’an dalam surah Surah al-Fajr (89): 27. Sedang Nafs dalam pengertian diri atau keakuan terdapat dalam surah al-An’am (6): 164.

Kata Qalb digunakan berkaitan dengan emosi dan akal. Sedangkan kata Ruh menunjuk pada beberapa penggunaan arti. Pertama digunakan sebagai pemberian hidup, (al-Hajr (15): 29), (as-Sajadah (32): 9), (al- Ambiya’ (21): 91). Kedua digunakan sebagai arti Al-Qur’an (as-Syurā (42): 52). Ketiga digunakan dalam arti wahyu dan malaikat yang membawanya (Gafir (40): 15), (an-Nahl (16): 102).

Baik yang menunjuk pada pengertian nafsu, nyawa, jiwa maupun diri atau keakuan, semua sangat dipentingkan oleh Islam untuk dididik. Individu hanya disebut manusia, apabila dimensi jasmaniyah dan rohaniyahnya saling mendukung dalam gerak kesatuan yang utuh.

6. Pendidikan Keindahan/Estetika (Tarbiyah al-Jamaliyah)

Keindahan, keteraturan, kerapian mendapat porsi pembahasan yang cukup luas dalam Al-Qur’an. Bahkan Al-Qur’an mendramatisir keindahan, keteraturan dan kerapian dengan bahasa interpretatif yang tidak dapat ditangkap oleh panca indra, seperti keindahan sorga.

Islam menyuruh manusia membersihkan diri baik pisik maupun psikisnya agar bersih dan indah. Perintah berwudu sebelum menegakkan salat, merupakan bukti bahwa kebersihan sangat pentingkan oleh Islam. Begitu juga agar manusia mengenakan pakaiannya sebelum atau ketika akan melaksanakan salat dan menutup auratnya, merupakan cermin keindahan.

Keindahan itu lebih jelas lagi dalam penciptaan yang dilakukan oleh Tuhan. Melalui penciptaan tersebut, Tuhan mendidik manusia agar senantiasa memperindah diri dalam kehidupan sehari-hari. Keindahan penciptaan manusia disebutkan dalam Al-Qur’an sebagai berikut:

Artinya : Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya (Q.S. at-Tin (95) : 4)

7. Pendidikan Sosial Kemasyarakatan (Tarbiyah al-Ijtima’iyah)

Di antara sebutan yang disandang oleh manusia adalah “Homo Socius” sebagai bukti keterikatannya dengan kelompok sosial yang lain. Hal ini berarti pula bahwa tak satupun di antara manusia yang dapat berdiri sendiri dalam hidup ini. Satu dengan yang lain saling membutuhkan dan saling tergantung untuk memenuhi hajat kehidupannya. Al-Qur’an mensinyalir sebagai berikut:

Artinya : Mereka diliputi kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali mereka berpegang kepada tali (agama) Allah dan tali (perjanjian) dengan manusia …..  (Q.S. Ali Imran (3) : 112)

Melalui ayat ini manusia diperintahkan untuk melakukan interaksi sosial, di samping harus secara terus-menerus menghubungkan diri dengan Tuhannya agar tercipta hubungan yang saling menguntungkan antar sesamanya.

Hubungan antar sesama dalam Islam diarahkan kepada kerjasama untuk bersatu menegakkan kebaikan dan takwa.32) Dari sini dapat diarahkan bahwa setiap bentuk hubungan itu harus dilandasi nilai-nilai ilahiyah, sebagaimana banyak diungkap oleh ayat-ayat Al-Qur’an dengan kalimat “Ya ayyuha al ladzina amanu wa ‘amil al sahlihat”.

Ketuju dimensi pendidikan yang di atas meliputi keseluruhan dimensi kehidupan manusia sebagai subyek sekaligus obyek pendidikan. Jika keseluruhan dimensi pendidikan itu dapat diimplementasikan dalam pendidikan, maka secara ideal akan memungkinkan manusia memerankan perannya sebagai khalifah di bumi secara optimal.


 

1)Al-Qur’an, surah al-Isra’ (17): 9, Surah al-Baqarah (2): 2, Surah Fussilat (41): 44.

2) Abdullah Yusuf Ali, The Holy Qur’an, Text, Translation and Commentary, New Revised Edition, (Maryland, USA, Amana Corporation Brenwood, 1989), hal. xi.

3)Muhammad Quraish Shihab, Membumikan Al-Qur’an, (Bandung: Mizan, 1992), hal. 138. Lihat juga makalah Martin Van Bruinessen, Muhammad Arkoun Tentang Al-Qur’an, hal. 2, mengutip Muhammad Arkoun “Al Geria” dalam Shireen T. Hunter (Ed), The Politic of Islamic Revivalism, Bloomington: Indiana University Press, 1988, hal. 182.

4) Ibid.

5) Mahmud Yunus, Kesimpulan Isi Al-Qur’an, (Jakarta: Pt. Hidra Karya Agung, 1979), hal. 5.

6)Hasan Langgulung, Pendidikan dan Peradaban Islam, (Jakarta: Pustaka Al-Husna, 1985), hal. 98

7) )Munawar Kholil, Al-Quran dari Masa ke Masa, (Solo: Ramadani, 1985), hal. 77

8)Al-Qur’an, Surah An-Nahl (17): 89, surah Al-An’am (6): 59

9)Syekh Ahmad Mustafa al-Maragi, Tafsir Al-Maragi, Jilid I (Mesir: Mustafa al-Bahi al-Halbi, 1974), hal. 82

10)Al-Qur’an surah al-Baqarah (2) ayat 30, al-An’am (6) ayat 165. Fatir (35) ayat 39

11)Dawam Rahardjo, “Bumi Manusia dalam Al-Qur’an” dalam Dawam Rahardjo (peny.) Insan Kamil, Konsepsi Manusia Menurut Islam, (Jakarta : Grafitipress, 1987), hal. 212 .

12)Lihat misalnya tulisan ‘Aisyah ‘Abdurrahman binti asy-Syati, al-Maqal fi al-Insan Dirasah Qur’aniyah yang membahas tentang asal dan tujuan hidup manusia disertai dengan jawaban tentang bahan pembentuk dan tahapan penciptaannya serta kajian tentang kehidupan sesudah kematian. Lihat juga Abas Mahmud al-Aqqad, al-Insan fi al-Qur’an al-Karim, yang membahas tentang adanya tuntutan terhadap tanggung jawab manusia berkaitan dengan tabig, ilmu, dan amal. Begitu juga dalam, Man in the Qur’an, karya Dirck Bakker  yang menjelaskan hubungan antara Tuhan sebagai Yang Disembah dan manusia sebagai hamba. Toshihiko Izutsu, God and Man in the Koran. juga menjelaskan posisi manusia sebagai hamba yang harus mengabdi kepada Allah. Seorang hamba harus tunduk secara penuh hanya kepada Allah dan berupaya melayani perintah Allah dengan baik sebagimana makna asal dari kata ibadah yang secara semantik berarti melayani.

13)Ali Khalil Abu al ‘Ainaini, Falsafah at-Tarbiyah al-Islamiyah fi Al-Qur’an al-Karim, (Mesir: Dar al Fikri al Arabi, 1980), hal. 158 – 210

14)Al-Qur’an, Surah al-Baqarah (2): 195, menjelaskan bahwa bersedekah sangat dianjurkan, tetapi jangan sampai melupakan kebutuhan untuk diri sendiri. an-Nisa’ (4): 29, larangan bagi orang beriman saling makan  harta sesama dengan cara yang batil dan membunuh diri sendiri. al-Qasas (28): 77, perintah untuk mendahulukan kehidupan untuk di akhirat dengan tidak melupakan kebutuhan di dunia.

15)Imam Bukhari, Sahih Bukhari, (ttp, Dar al Fikri, 1981), Jilid I, hal. 245

16)Harun Nasution, Akal dan Wahyu dalam Al-Qur’an, (Jakarta: UI Press, 1986), hal. 39

17)Al-Qur’an, Surah at-Tariq (86): 5, Qaf (50): 6, al-Gasyiyah (88): 17. Lihat juga Muhammad Fuad Abd al-Baqi, al-Mu’jam al-Mufahrasy fi al-Faz al-Qur’an al-Karim, (Dar al-Fikri : Li at-Taba’ah wa an-Nasyri)

18)Al-Qur’an, Surah Muhammad (47): 24, Sad (38): 29

19)Al-Qur’an, Surah al-An’am (6): 50, ar-Rūm (30): 8, Ali Imran (3): 191

20)Al-Qur’an, Surah at-Taubah (9): 122, al-A’raf (7): 179, al-An’am (6): 98

21)Al-Qur’an, Surah al-Nahl (16): 17, al-Baqarah (2): 221, al-An’am (6): 126

22)Al-Qur’an, surah al- Ambiya’ (21): 79

23)Al-Qur’an, Surah al-Anfal (8): 22, a- Jasiyat (45): 5, al-Ankabut (29): 43

24)Abdurrahman an Nahlawi, Prinsip-Prinsip dan Metoda Pendidikan Islam, (Ushul at Tarbiyah al Islamiyah wa Asalibuha), terj. Herry Noer Ali, (Bandung: CV Diponegoro, 1989), hal. 185

25)Ali Khalil Abu al-‘Ainaini, Op. Cit, hal. 180

26)Al-Qur’an, Surah Taha (20): 98, al-Anbiya’ (21): 108, al-Kahfi (18): 110

27)Omar Muhammad al Taumi al-Saibani, Falsafah Pendidikan Islam, terj. Hasan Langgulung, (Jakarta: Bulan Bintang, 1979), hal. 312

28)Al-Qur’an, surah Lukman (31) : 18, 19, al-Isra’ (17) : 37

29)H. Muzayin Arifin, Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta: Bina Aksara, 1987), hal. 139

30)Hasan Langgulung, Teori-Teori Kesehatan Mental, (Jakarta: Pustaka Al Husna, 1986), hal. 307

31)Musa Asy’arie, Manusia Pembentuk Kebudayaan Dalam Al-Qur’an, (Lembaga Studi Filsafat Islam, 1991), hal. 80

32)Al-Qur’an, surah al-Maidah (5) : 2

This entry was posted in Artikel.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s